JAKARTA, PostingNews.id — Kematian Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya mengguncang Iran. Di Jakarta, peristiwa itu juga memantik respons politik yang tegas. Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyampaikan duka mendalam sekaligus sikap keras terhadap serangan militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran tersebut.
Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur dalam serangan militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026. Bagi Megawati, peristiwa itu bukan sekadar kabar duka, tetapi tragedi geopolitik yang menyentuh hubungan historis Indonesia dan Iran.
Belasungkawa itu dituangkan dalam surat resmi yang diantarkan langsung Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah ke Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Selasa 3 Maret 2026. Surat tersebut diterima langsung oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.
Dalam suratnya, Megawati menulis dengan nada personal sekaligus politis.
“Dengan hati terkejut dan sangat berduka, saya Prof.Dr. Megawati Soekarnoputri selaku Presiden Ke-5 Republik Indonesia dan mewakili keluarga besar Dr.(H.C.) Ir. Soekarno (Bung Karno) sekaligus sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yang Mulia Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, yang gugur dalam serangan militer mendadak yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026,” tulis Megawati.
Kepemimpinan Tiga Dekade di Tengah Tekanan
Megawati menilai Khamenei sebagai pemimpin yang konsisten menjaga kedaulatan Iran dalam situasi penuh tekanan. Lebih dari tiga dekade, Iran berada dalam bayang-bayang sanksi ekonomi, tekanan geopolitik, hingga ancaman militer.
“Selama lebih dari tiga dekade, Ayatullah Ali Khamenei memimpin bangsanya dalam situasi yang sangat sulit, ditengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer, seraya secara konsisten mempertahankan kedaulatan negaranya dan martabat dunia Islam. Dalam diri beliau kami melihat seorang ulama dan negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten,” ungkapnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Megawati tidak sekadar menyampaikan simpati, tetapi juga menggarisbawahi dimensi ideologis kepemimpinan Khamenei.
Kedekatan Historis dengan Bung Karno
Megawati juga menyinggung kedekatan batin dan pemikiran antara Khamenei dan Bung Karno. Ia menyebut sejumlah kesaksian yang menunjukkan kekaguman Khamenei terhadap pemikiran Proklamator RI tersebut.
“Bagi kami di Indonesia, sosok Ayatullah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno, selaku Bapak Bangsa, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Berbagai kesaksian menunjukkan bagaimana sejak usia muda beliau mengagumi Bung Karno, membaca pemikirannya, dan menjadikan pengalaman Indonesia, terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung, sebagai salah satu referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan lan keadilan sosial di Iran,” lanjut isi surat itu.
Pernyataan tersebut menghidupkan kembali narasi historis hubungan Indonesia dan Iran yang berakar pada semangat anti-kolonialisme dan Konferensi Asia Afrika.
Megawati bahkan mengenang pertemuan langsungnya dengan Khamenei saat kunjungan resmi ke Teheran pada 2004 dalam kapasitas sebagai Presiden RI.
“Hari ini, saya terkenang akan kunjungan resmi saya ke Teheran di tahun 2004, dalam kapasitas selaku Presiden Republik Indonesia. Kunjungan itu adalah untuk menghadiri Konferensi D-8 sekaligus memperkuat hubungan persahabatan dan kerjasama antara kedua negara. Kala itu saya berkesempatan untuk bertemu dengan Ayatullah Ali Khamenei. Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau,” kenangnya.