Menlu Soroti Dunia Kian Rapuh, Ancaman Nuklir Kembali Menguat

Senin 23-02-2026,21:55 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Kondisi geopolitik dunia dinilai kian rapuh. Sejumlah negara disebut mulai mengedepankan pendekatan defensif demi menjaga kepentingan nasional masing-masing.

Situasi itu disoroti Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam High-Level Segment Konferensi Perlucutan Senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss, Senin, 23 Februari 2026.

Dalam forum tersebut, Sugiono menggambarkan perubahan lanskap global yang semakin tidak stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Ketegangan politik meningkat, polarisasi makin tajam, dan risiko keamanan global dinilai bertambah besar.

"Ketika saya berpidato di Konferensi ini tahun lalu, situasi global sudah rapuh. Hari ini, kondisinya bahkan lebih tidak menentu, lebih terpolarisasi, dan lebih berbahaya, banyak negara yang beralih ke mode bertahan hidup," ujarnya.

Ia menilai tekanan terhadap tatanan hukum internasional semakin kuat. Lembaga-lembaga multilateral juga menghadapi tantangan serius di tengah dinamika global yang berubah cepat.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia menegaskan tetap berpegang pada upaya perlucutan senjata secara multilateral sebagai fondasi menjaga perdamaian dan stabilitas internasional.

BACA JUGA:Ramai Isu Produk AS Tanpa Sertifikasi Halal, Begini Kata Seskab Teddy

"Kami percaya komitmen ini bukanlah idealisme, melainkan sebuah kebutuhan," kata Sugiono.

Menurut dia, perkembangan isu perlucutan senjata dunia tidak hanya mengalami kebuntuan, tetapi juga menunjukkan tanda kemunduran. Ribuan hulu ledak nuklir masih tersimpan di berbagai negara.

Di saat bersamaan, program modernisasi persenjataan terus berlangsung dan retorika terkait penggunaan senjata nuklir semakin sering muncul dalam diskursus global.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah berakhirnya Perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Federasi Rusia pada 05 Februari 2026. Perjanjian itu sebelumnya menjadi instrumen utama pembatasan senjata nuklir strategis kedua negara.

"Berakhirnya Perjanjian New START (perjanjian pelucutan senjata nuklir), batasan mengikat terakhir pada dua persenjataan nuklir terbesar, menandai momen yang mencemaskan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tidak ada batasan yang disepakati pada kekuatan nuklir strategis mereka," imbuhnya.

Sugiono menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai isu bilateral semata. Dampaknya berpotensi meluas dan memengaruhi stabilitas global. Kondisi tanpa batasan persenjataan dikhawatirkan mendorong negara lain meningkatkan kemampuan militernya, termasuk negara yang sebelumnya tidak memiliki senjata nuklir.

BACA JUGA:Tol Gratis Lebaran 2026 Resmi Dibuka, Ini Daftar 6 Ruas yang Bisa Dilalui Pemudik

Ia juga menyoroti munculnya teknologi baru yang memperumit situasi keamanan internasional. Perkembangan kecerdasan buatan, kemampuan siber, serta pemanfaatan ruang angkasa dinilai menambah dimensi risiko baru jika tidak diatur secara jelas.

Kategori :