JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Presenter sekaligus perancang busana Ivan Gunawan mengaku telah menyiapkan banyak hal untuk menghadapi kematian. Ia memandang langkah itu sebagai bagian dari kesadaran terhadap akhir perjalanan hidup manusia.
Persiapan yang dilakukan bukan hanya menyangkut kesiapan batin dan spiritual, tetapi juga hal-hal teknis yang lazim dilakukan setelah seseorang wafat.
Pria yang akrab disapa Igun itu mengatakan dirinya sudah menyiapkan perlengkapan pemulasaraan jenazah secara pribadi. Pengakuan tersebut ia sampaikan saat ditemui di rumah tahfiz miliknya di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat, Rabu 18 Februari 2026.
"Punya, kain kafan ada. Kain kafan ada. Yang mandiin standby. Semua ready. Gitu," kata Ivan Gunawan.
Menurut dia, persiapan tersebut bukan semata untuk dirinya sendiri. Ia juga berencana melengkapi fasilitas di masjid dan rumah tahfiz yang dikelolanya agar dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar ketika menghadapi situasi kedukaan. Sejumlah sarana penunjang tengah direncanakan, mulai dari pengadaan keranda hingga ambulans.
BACA JUGA:Ci Mehong Bakal Gugat Cerai Suami, Akui Tak Tahan Tekanan Finansial
"Bahkan di masjid ini juga insya Allah saya mau beli keranda, mau beli ambulans, mau dipersiapkan. Jadi ini bener-bener bisa menjadi tempat yang berguna untuk masyarakat sekitar," ujarnya.
Igun menuturkan perubahan cara pandangnya terhadap kehidupan dan kematian terjadi setelah banyak belajar dari para ulama. Ia merasa perlu menyeimbangkan pencapaian duniawi dengan kesiapan menghadapi kehidupan setelah mati. Baginya, nilai seseorang pada akhirnya ditentukan oleh penutup perjalanan hidupnya.
"Ya kan diajarin sama para ulama untuk bertobat, untuk minta maaf sama Allah, untuk menyadari kesalahan-kesalahan yang terdahulu. Kalau manusia itu kan yang dilihat itu hasil akhirnya nanti. Jadi bagaimana caranya kita berlomba-lomba mencari dan mempersiapkan hasil akhir yang lebih baik lagi," katanya.
Kesadaran tersebut kemudian ia wujudkan melalui aktivitas sosial dan pendidikan keagamaan. Saat ini, Ivan Gunawan memusatkan perhatian pada pengelolaan rumah tahfiz yang menampung ratusan santri. Ia berperan sebagai orang tua asuh yang menanggung kebutuhan hidup sekaligus pendidikan para penghuni pesantren tersebut.
"Ada 130 anak yang mondok di sini, alhamdulillah. Sekali beranak 130 orang yang harus dikasih makan setiap hari, yang harus dibesarkan, ditinggikan ilmunya. Tugas mereka hanyalah belajar, belajar, dan belajar. Enggak perlu mikirin hidup, nggak perlu mikirin makan," tegasnya.
BACA JUGA:Sahroni Kembali ke Komisi III, NasDem Andalkan Rekam Jejak Lama
Seluruh kebutuhan santri, mulai dari konsumsi hingga pendidikan, ditanggung agar mereka dapat fokus menghafal Al-Qur'an. Untuk mendukung masa depan para santri, ia juga bekerja sama dengan Ustaz Fatih guna membuka peluang melanjutkan pendidikan hingga jenjang universitas.
Meski aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, Igun mengaku tidak ingin memasang target ambisius terkait pembangunan masjid di berbagai daerah. Ia memilih menjalani proses secara bertahap dan menyerahkan hasilnya pada rezeki yang diberikan Tuhan.
"Ibadah enggak bisa ditargetin teman-teman. Doain aja rezekinya selalu ada, kerjaannya ada, Allah terus percaya jadi bisa bangun-bangun di tempat lain," ucapnya.