Sebelumnya, pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam setelah pengumuman MSCI. Indeks Harga Saham Gabungan sempat anjlok hingga 7,35 persen ke level 8.320,55 pada perdagangan Rabu 28 Januari 2026.
Tekanan itu memaksa bursa menghentikan sementara perdagangan saham pada sesi kedua. Sehari berselang, pelemahan kembali terjadi pada sesi pertama Kamis 29 Januari ketika indeks turun hingga 8 persen. Bursa kembali menerapkan penghentian sementara.
BACA JUGA:Investasi Rp 188 Triliun Masuk Singapura, 15.700 Lapangan Kerja Dibuka
Meski demikian, IHSG akhirnya menutup perdagangan hari itu di zona hijau. Penguatan di akhir sesi memangkas pelemahan, meski indeks masih terkoreksi 1,06 persen ke level 8.232,20.
Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti isu kepemilikan saham dan tingkat free float di Indonesia. Lembaga tersebut memberi tenggat waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas pasar modal untuk memenuhi standar transparansi yang diminta.
MSCI juga menyebut kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks pasar negara berkembang. Jika perbaikan tidak dilakukan, status pasar saham Indonesia berisiko turun dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market.
Ancaman itu kini menjadi perhatian serius pemerintah. Bagi Presiden, menurut Hashim, persoalan ini tidak sekadar soal pasar. Taruhannya adalah nama baik Republik Indonesia di mata dunia.