Sedangkan Cap Go Meh selalu hadir 15 hari setelah Imlek atau pada malam ke-15 tahun baru Tionghoa, yang juga sering dianggap sebagai simbol bulan purnama pertama dalam tahun itu.
Makna kedua perayaan juga berbeda, di mana Imlek lebih memfokuskan pada permulaan baru dan harapan keberuntungan, sementara Cap Go Meh lebih merepresentasikan penutupan tradisi, rasa syukur, dan penyempurnaan perayaan yang telah berlangsung selama dua minggu lebih.
Dengan demikian, meski masih dalam satu rangkaian budaya, Imlek sering dianggap sebagai “awal cerita” sedangkan Cap Go Meh adalah “penutup cerita” dalam tradisi Tahun Baru Tionghoa.
BACA JUGA:Pemerintah Siapkan Aturan Label Wajib untuk Karya Berbasis AI
Nuansa perayaan yang dijalankan juga berbeda antara Imlek dan Cap Go Meh, di mana suasana Imlek sering kali bersifat lebih privat dan kekeluargaan, berlangsung di rumah serta lingkungan dekat keluarga.
Kegiatan seperti makan besar, berbagi angpao, serta doa bersama leluhur menjadi inti dalam tradisi Imlek bagi banyak keluarga Tionghoa serta masyarakat yang merayakan.
Sebaliknya, Cap Go Meh cenderung dirayakan dengan suasana terbuka untuk masyarakat luas, dengan atraksi budaya yang digelar di ruang publik seperti parade, festival lampion, serta pertunjukan seni barongsai dan liong.
Perbedaan ini menunjukkan bagaimana dua tradisi yang serupa sekaligus berbeda tetap saling melengkapi dalam memperkaya budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia.