“Lalu memoderasi, bahwa keyakinan Ahmadiyah yang tidak dimiliki oleh Muslim non-Ahmadiyah, misalnya soal Imam Mahdi, tidak terlalu eksklusif. Memoderasi ini memang betul, keberagaman adalah keniscayaan, bukan hanya di Ahmadiyah, di Islam, Kristen, dan Katolik, itu adalah sunnatullah, dan bagaimana dikomunikasikan,” jelasnya.
Peluncuran buku ini juga dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Zaki Firdaus Sahid tampil sebagai keynote speaker. Diskusi menghadirkan intelektual muda NU Hery Haryanto Azumi, Prof. Ismatu Ropi selaku Dekan Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus editor buku, tokoh lintas iman Pdt. Gomar Gultom, serta pegiat keberagaman dan isu gender Mila Muzakkar. Diskusi dipandu oleh Dedy Ibmar, peneliti PPIM dan editor buku.
Selain itu, turut hadir Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin, Komisioner Komnas Perempuan Daden Sukendar, perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Utara Bapak Nur, serta sejumlah tokoh dan undangan lainnya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas ruang dialog dan membawa gagasan buku ini ke publik yang lebih luas, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia juga merencanakan roadshow buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di 10 kota di Indonesia. Roadshow tersebut akan diisi dengan diskusi publik, bedah buku, serta gerakan sosial sebagai perwujudan nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.