Bahlil Lahadalia Isyaratkan RI Bisa Impor Minyak dari Brunei Darussalam
bahlil--Google
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Indonesia kini telah membuka peluang untuk impor minyak bumi dari negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam.
Hal tersebut salah satu langkah untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pada kapasitas produksi dari minyak Brunei Darussalam sudah mencapai sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari nya.
Hal itu telah diungkap oleh Menteri ESDM yaitu Bahlil Lahadalia saat bertemu dengan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister's Office Brunei Darussalam yaitu Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah disaat sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang.
BACA JUGA:Kelapa Utuh Jadi Menu MBG, 9 Dapur Gizi di Gresik Disetop Sementara
"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman" jelas Bahlil Lahadalia.
Brunei Darussalam yang selama ini terkenal sebagai salah satu produsen migas utama di Asia Tenggara mulai secara serius melirik langkah transformasi energi Indonesia.
Delegasi Brunei Darussalam sudah menyampaikan bahwa ketertarikannya terhadap mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan diversifikasi pembangkit energi, khusus yang berasal EBT.
Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa nanti kedepannya, Brunei Darussalam sedang mempersiapkan untuk terus meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit nasionalnya hingga 5x lipat dari kapasitas eksisting, atau ingin menambah 4gigawatt (GW) dari kapasitas terpasang yang sekarang masih 1 GW.
BACA JUGA:Jusuf Kalla Ingatkan Risiko Jika Defisit APBN Melebihi 3 Persen
Hal tersebut sebuah momentum emas bagi sebuah kolaborasi kawasan.
Brunei Darussalam sendiripun melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur untuk mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi.
Brunei Darussalam telah memanfaatkan 99% dari gas untuk pembangkit listrik dan ingin mengurangi porsi dari pemanfaatan gas untuk pembangkitnya.
Bahlil Lahadalia juga mengatakan, bahwa Brunei Darussalam juga sangat tertarik dengan sebuah teknologi yang diterapkan oleh perusahaan migas nasional yaitu PT Pertamina (Persero).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News