Kasus Virus Nipah Merebak, Kemenkes Minta Warga Tidak Minum Nira Sembarangan
Air nira.--Foto: Facebook.
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Kementerian Kesehatan meminta masyarakat tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap ancaman virus Nipah. Hingga kini memang belum ada laporan penularan pada manusia di Indonesia. Namun, potensi risikonya dinilai tetap ada.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Murti Utami mengatakan posisi geografis Indonesia berada di kawasan yang rawan. Faktor kedekatan wilayah dan mobilitas penduduk dengan negara-negara yang pernah mengalami wabah menjadi alasan utama kewaspadaan perlu dijaga.
“Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan,” ujar Murti dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu 01 Januari 2026.
Salah satu perhatian pemerintah tertuju pada kebiasaan konsumsi nira atau air aren segar. Minuman ini dinilai berisiko bila dikonsumsi langsung dari pohon. Pada malam hari, nira berpotensi terpapar air liur atau urine kelelawar yang hinggap di wadah penampungan.
Murti meminta masyarakat tidak mengabaikan proses pengolahan sebelum konsumsi. Nira sebaiknya dimasak terlebih dahulu agar lebih aman. Buah-buahan juga perlu dicuci dan dikupas dengan benar. Buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar disarankan untuk dibuang.
BACA JUGA:Hati-hati Makan Durian, Salah Padanan Bisa Picu Masalah Kesehatan
“Sebelum dikonsumsi, nira sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang memiliki tanda bekas gigitan kelelawar,” katanya.
Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonotik. Kelelawar buah menjadi inang alaminya. Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara, terutama babi. Risiko juga muncul dari makanan dan minuman yang terkontaminasi virus.
Sejumlah penelitian di dalam negeri telah menemukan keberadaan virus Nipah pada kelelawar buah jenis Pteropus. Temuan ini memperlihatkan potensi sumber penularan yang berasal dari lingkungan domestik.
Selain penularan dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menyebar antarmanusia. Penularan terjadi melalui kontak erat dengan penderita. Gejala yang muncul beragam. Mulai dari gangguan pernapasan ringan hingga peradangan otak yang berujung fatal.
Mengantisipasi ancaman tersebut, Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan dinas kesehatan di seluruh daerah untuk meningkatkan pemantauan. Pengawasan difokuskan pada tren kasus yang mengarah ke meningitis, ensefalitis, serta infeksi saluran pernapasan berat seperti pneumonia.
BACA JUGA:Mulai Hari Ini! Girik hingga Petok D Tak Berlaku, Pemerintah Ingatkan Risiko Sengketa Tanah
Imbauan ini disampaikan setelah muncul laporan terbaru kasus virus Nipah di India. Hingga 26 Januari 2026, dua tenaga kesehatan dilaporkan terkonfirmasi positif di negara bagian West Bengal.
Otoritas setempat saat ini tengah memantau lebih dari 120 orang yang masuk kategori kontak erat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News