Awalnya Hanya Migrain, Cerita Pekerja Ini Tiba-Tiba Didiagnosis Stroke di Usia Muda

Awalnya Hanya Migrain, Cerita Pekerja Ini Tiba-Tiba Didiagnosis Stroke di Usia Muda

Ilustrasi stroke.--Foto: Istimewa.

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Airin Stanyawati tak pernah membayangkan hidupnya berubah drastis di usia 32 tahun. Perempuan yang bekerja di kawasan Jakarta Selatan itu harus menerima diagnosis stroke saat usianya masih tergolong muda.

Peristiwa itu bermula pada pertengahan Januari 2026. Saat itu, Airin merasa tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada keluhan serius. Namun, pagi itu ia menyadari ada yang berbeda pada wajahnya.

“Pada hari itu ya, jadi pagi-pagi itu cuci muka terus kok sadar mata kecil sebelah. Kirain cuman sakit mata aja sih kayak biasa bangun tidur mata suka bengkak kan,” ujar Airin saat diwawancara, dikutip Minggu 01 Januari 2026.

Ia mengira keluhan tersebut hanya masalah ringan. Namun, kondisi itu tak berhenti di situ. Beberapa gejala lain mulai muncul perlahan. Airin merasa sering menguap, senyumnya terlihat tidak simetris, dan lidahnya terasa kaku ketika berbicara.

Rasa cemas pun muncul. Ia segera menghubungi suaminya untuk memberi tahu kondisi yang dirasakannya. Namun, saat mengetik pesan, jarinya terasa tak terkendali.

BACA JUGA:Siapa Sangka, Desa Terbersih di Asia Justru Ada di India

“Terus dari situ mulai deg-degan banget kan, panik juga gitu. Terus setelah itu coba nge-chat suami ngabarin. Tapi kok kaya typo-typo gitu, nggak tahu panik atau serangan (stroke) juga,” katanya.

Migrain yang Sering Dianggap Sepele

Sebelum kejadian tersebut, Airin sebenarnya sempat beberapa kali memeriksakan diri ke dokter. Ia menjalani pemeriksaan saraf dan jantung. Sejumlah prosedur lanjutan juga dilakukan, mulai dari MRI, DSA, hingga TEE.

Dari hasil pemeriksaan, dokter menemukan adanya patent foramen ovale atau PFO. Kondisi ini merupakan kelainan bawaan jantung, ketika lubang di antara serambi kanan dan kiri tidak menutup sempurna. Celah tersebut diduga menjadi pemicu terjadinya stroke.

Setelah mengingat kembali gejala yang ia alami, Airin menyadari bahwa migrain kerap muncul jauh sebelum serangan itu terjadi.

“Pertama dokter jantungnya pas ketemu langsung nanya ‘kamu ada migrain ya?’ aku bilang iya lagi sering banget dok migrain. Tapi saya pikir cuman masuk angin atau asam lambung,” tuturnya.

BACA JUGA:Aksi Cabul Pria ke Remaja di MRT Singapura, Berujung 12 Hari Penjara

Migrain itu datang cukup rutin. Dalam sebulan, ia bisa mengalaminya satu hingga dua kali. Biasanya muncul saat kurang tidur, kelelahan, atau sedang banyak pikiran.

“Mungkin dua minggu sekali atau dua kali lah migrain. Biasanya kalau migrain itu kurang tidur, salah makan, kecapekan, terlalu stres gitu,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait