Ketika Tubuh Perempuan Pribumi Jadi Medan Perang Tentara Jepang

Ketika Tubuh Perempuan Pribumi Jadi Medan Perang Tentara Jepang

Kisah gelap ketika tubuh perempuan Hindia Belanda dijadikan medan perang tentara Jepang. Ribuan korban dipaksa jadi penghibur tanpa ruang menolak.-Foto: Wikipedia-

JAKARTA, PostingNews.id — Selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada Perang Dunia II, ribuan perempuan muda diculik dari rumah maupun kamp interniran. Mereka dijadikan bagian dari sistem prostitusi paksa militer Jepang. Tubuh mereka berubah menjadi medan perang, tanpa ruang menolak, tanpa pilihan. Sebagian besar hidup dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Diperkirakan sekitar 30.000 perempuan pribumi Hindia Belanda menjadi korban kekerasan seksual militer Jepang pada akhir 1930-an hingga masa pendudukan. Angka ini muncul dalam buku Marguerite Hamer berjudul Broken Flower: Eight Women Tell Their Stories of Japanese Military Forced Prostitution, yang menyingkap bagaimana trauma itu melekat sampai para penyintas menua. Hamer yang pernah merasakan penahanan oleh Jepang menulis bukan dari jarak, tapi dari mata yang pernah melihat langsung gelapnya sistem tersebut.

Sistem pelacuran paksa yang melibatkan perempuan Indonesia-Belanda dan Belanda ini bukan kasus lokal. Ini bagian dari jejaring prostitusi militer yang menjerat sedikitnya 200.000 perempuan muda Asia, dari Korea sampai Taiwan dan Tiongkok. Dalam bukunya, Hamer menghadirkan delapan orang korban (semua memakai nama samaran) yang akhirnya berani membongkar kisah yang selama puluhan tahun mereka pendam.

Salah satu perempuan yang ditulis adalah Erna. Ia mengenang bagaimana ia dan perempuan lain berusia sekitar 17–28 tahun ditangkap pada Februari 194 dan dibawa ke bangunan berpagar tinggi. Mereka dipaksa melepas pakaian dalam untuk pemeriksaan medis, lalu diminta menandatangani formulir persetujuan menjadi pekerja seks seolah-olah sukarela. Selama dua bulan mereka harus melayani tentara Jepang hingga 20 kali per hari.

BACA JUGA:Hanyut Bareng Kayu, Berapa Sebenarnya Sisa Gajah Sumatera di Tengah Kepungan Sawit?

Setelah itu, para perempuan dipaksa menyuntikkan cairan kimia pembersih ke tubuh mereka sendiri, hanya karena tentara ketakutan terhadap penyakit kelamin. Pada awalnya mereka berjuang, berontak, mencoba mempertahankan manusia di dalam diri mereka.

“Para gadis itu melawan seperti orang gila berulang kali, berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tetapi tak satu pun dari mereka mampu mencegah diri mereka disiksa secara brutal. Setelah berhari-hari, tekad sebagian besar gadis itu pun runtuh, juga karena orang-orang kemudian mulai mengancam akan membunuh keluarga mereka di kamp.”

Erna akhirnya hamil, mengalami aborsi paksa, dan hidup selanjutnya dipenuhi depresi, mimpi buruk, dan migrain yang tak pernah benar-benar hilang. Tubuh pulih, tapi yang runtuh bukan tubuh.

Ketika Anak pun Bisa Dirampas

Kisah Lia, seorang perempuan Katolik, menambah bab tragedi lainnya. Ia diperkosa berkali-kali oleh tentara Jepang hingga hamil. Ketika seorang perwira Angkatan Udara Jepang bernama Yoshida membawanya keluar untuk menjadi pelayan rumah tangga, kekerasan itu tidak berhenti. Bahkan kehamilan kedua terjadi akibat pemerkosaan lanjutan.

Setelah Jepang menyerah, Lia bersama Hans membaptis kedua anaknya bernama Antonius Takeshi Yoshida dan Augustinus Akira Yoshida. Namun setelah itu Yoshida menawarkan diri menjaga dua anak itu sementara Lia dan Hans menikah. Ketika mereka kembali, Yoshida menghilang bersama kedua anak tersebut. Sejak hari itu, Lia dan Hans tidak pernah lagi melihat putra-putra mereka.

BACA JUGA:Cak Imin Bilang Bencana Nasional untuk Sumatera Masih Bersifat Mungkin

Tidak ada peluru, tidak ada kamp tahanan, tetapi perang mencuri yang paling hakiki: anak.Buku ini tidak memakai ilustrasi berdarah-darah untuk membuat orang percaya. 

Ia memakai suara perempuan yang telah menanggung perang tanpa senjata. Kesaksian, lampiran, dan catatan yang tertulis cukup untuk mengingatkan bahwa tragedi ini bukan adegan film, bukan cerita terlalu jauh untuk dipercaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share