Ademkan Suasana! Petinggi PBNU Sowan ke Lirboyo, Masyayikh Turun Gunung Keluarkan 'Titah' Netralitas
Ketum PBNU Gus Yahya ajak NU tetap utuh meski internal panas karena isu tambang dan polemik pencopotan dirinya.-Foto: Antara-
POSTINGNEWS.ID --- Di tengah memanasnya suhu internal organisasi, para petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memilih langkah kultural untuk mencari jalan keluar.
Secara bergantian, jajaran elit PBNU melakukan kunjungan atau "sowan" ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada awal pekan ini. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sinyal kuat bahwa upaya damai sedang ditempuh melalui restu para Kiai Sepuh (Masyayikh).
Langkah ini menghasilkan respon penting dari Lirboyo yang meminta seluruh kader untuk menahan diri. Simak 3 fakta penting dari pertemuan "penyejuk hati" ini.
BACA JUGA:Gus Yahya Resmi Dicopot, Rais Aam Kini Pegang Stir PBNU
1. Maraton Sowan: Gus Ipul hingga Gus Yahya
Upaya meredam konflik ini dilakukan secara bertahap.
Kloter Pertama (Selasa, 25/11): Sekretaris Jenderal PBNU, Gus Ipul (Saifullah Yusuf), dan Bendahara Umum, Gus Gudfan, menghadap KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus.
Kloter Kedua (Rabu, 26/11): Ketua Umum PBNU, Gus Yahya (Yahya Cholil Staquf), didampingi KH Amin Said Husni, menyusul sowan keesokan harinya.
Juru Bicara Pesantren Lirboyo, KH Oing Abdul Muid (Gus Muid), mengungkapkan bahwa tujuan utama kedatangan mereka seragam: Meminta doa restu dan bimbingan.
"Keduanya meminta doa restu agar persoalan yang tengah dihadapi PBNU dapat segera menemukan titik terang," ujar Gus Muid.
BACA JUGA:Rais Aam Miftachul Akhyar: Gus Yahya Tak Lagi Ketum PBNU Meski Masih Sibuk Rotasi Jabatan
2. "Titah" Masyayikh Lirboyo: Dilarang Ikut-ikutan!
Merespons situasi yang meruncing, para Masyayikh Lirboyo akhirnya mengeluarkan imbauan resmi yang tegas bagi seluruh alumni yang kini menjadi pengurus NU.
Pesan dari KH Athoillah Anwar sangat jelas: Jaga Netralitas. Para pengurus dan kader diminta untuk:
Tetap Netral: Tidak bergabung atau memihak pada kelompok manapun yang bertikai.
Diam di Medsos: Tidak ikut memperkeruh suasana dengan perdebatan atau komentar provokatif di media sosial maupun ruang publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News