Keren Parah! Siswa SMA Bogor Sulap Limbah Tandan Sawit Jadi Sunscreen Anti Kanker Kulit Bernilai Ekonomi
Siswa SMA Islam Hasmi Bogor sukses ubah limbah tandan kosong sawit jadi krim tabir surya SPF 15,14 kombinasi lignin dan vitamin E anti kanker kulit.-Dok-
Proses pembuatan diawali dengan isolasi lignin dari tandan kosong kelapa sawit menggunakan metode alkaline pulping yang ramah lingkungan.
Lignin kemudian dimurnikan sebelum dicampurkan dengan vitamin E ke dalam basis krim yang terdiri dari asam stearat dan bahan pendukung.
Basis krim yang digunakan terdiri atas asam stearat, setil alkohol, gliserin, trietanolamin, dan akuades yang aman untuk kulit sensitif.
Seluruh bahan dicampurkan melalui proses emulsifikasi hingga membentuk sediaan krim yang homogen dan tidak mengalami pemisahan fase.
Tim juga melakukan pengukuran pH untuk memastikan karakteristik formula berada pada kisaran yang ditargetkan dan aman dipakai harian postingers.
Selain itu, kondisi fisik krim diamati untuk melihat warna, aroma, tekstur, homogenitas, dan kemungkinan terjadinya pemisahan fase yang mengganggu.

Tandan kosong kelapa sawit yang selama ini dikenal sebagai salah satu limbah padat industri sawit berhasil diolah menjadi sediaan krim tabir surya oleh siswa SMA Islam Hasmi-Dok-
Setelah produk berhasil dibuat, Tim UVANGERS RZ melakukan uji hedonik untuk mengetahui tingkat kesukaan dan penerimaan panelis terhadap sensori.
Aspek yang dinilai meliputi warna, aroma, tekstur, kenyamanan, dan sensasi krim ketika diaplikasikan di kulit secara langsung dan merata.
Berdasarkan keterangan tim, hasil pengujian menunjukkan tingkat penerimaan yang memuaskan dan cukup disukai oleh para panelis yang mencoba.
Panelis dapat menerima karakteristik produk yang kami buat, penilaian tersebut penting karena tabir surya perlu tekstur dan aroma nyaman juga.
Hasil Uji: Disukai Panelis & Punya Potensi SPF 15,14
Hasil uji hedonik memberikan gambaran bahwa prototipe memiliki karakteristik fisik yang cukup disukai panelis meski belum diuji SPF laboratorium.
Meski demikian, pengujian tersebut tidak digunakan untuk mengukur kemampuan krim dalam melindungi kulit dari radiasi ultraviolet secara kuantitatif dan mendalam.
Guru pembimbing Daffa' Rizal Dzulfaqaar Alauddin menegaskan pentingnya membedakan penerimaan panelis dengan efektivitas produk secara ilmiah dan terukur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
