1177 SM Jadi Titik Runtuh Dunia Kuno, Perang hingga Iklim Disebut Biang Kerok
Tahun 1177 SM jadi penanda runtuhnya peradaban kuno akibat perang, kekeringan, gempa, dan gangguan perdagangan di Mediterania-Foto: Dok. Studi Inca-
JAKARTA, PostingNews.id — Tahun 1177 sebelum masehi kerap disebut sebagai penanda berakhirnya dunia kuno di kawasan Mediterania. Para sejarawan melihat periode ini sebagai titik balik ketika peradaban besar yang sebelumnya saling terhubung tiba-tiba ambruk dalam waktu relatif singkat.
Padahal sebelum itu, Zaman Perunggu dikenal sebagai era kemakmuran panjang. Kekaisaran besar seperti Mesir Kuno dan Mykenai membangun kota megah dan istana besar. Perdagangan lintas wilayah berjalan aktif, terutama untuk komoditas mewah yang dikirim melalui jalur laut.
Namun situasi berubah drastis. Banyak kota besar terbakar hampir bersamaan, meninggalkan puing dan tanda kehancuran yang luas. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Keruntuhan Akhir Zaman Perunggu, sebuah misteri besar yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.
Salah satu faktor yang sering disebut adalah serangan kelompok yang dikenal sebagai Bangsa Laut. Prasasti kuno di Medinet Habu, Mesir, menggambarkan konfederasi perampok laut yang menyerbu daratan dan menebar kehancuran.
BACA JUGA:Coretax Lemot, Purbaya Sebut Ada Anak Buah Nakal Main Vendor
Firaun Ramses III mencatat dirinya berperang melawan kelompok ini pada tahun kedelapan masa pemerintahannya. Bangsa Laut disebut terdiri dari berbagai kelompok seperti Peleset, Tjeker, Shekelesh, Denyen, dan Weshesh yang berasal dari kawasan Mediterania.
Meski sering dituding sebagai penyebab utama runtuhnya peradaban, para peneliti melihat situasinya lebih kompleks. Ada kemungkinan kelompok ini justru bagian dari dampak krisis yang lebih besar.
“Dan Bangsa Laut sendiri kemungkinan adalah pengungsi yang terpaksa bermigrasi untuk mencari tanah baru untuk dihuni,” tulis Matt Whittaker di laman The Collector.
Selain konflik, faktor lingkungan juga ikut memperburuk keadaan. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya penurunan curah hujan tajam sekitar tahun 1200 sebelum masehi. Wilayah Mediterania dan Timur Dekat disebut mengalami kekeringan panjang hingga tiga abad.
BACA JUGA:Suka Mengusir Kantuk dengan Minum Energy Drink? Hati-Hati, Ada Bahaya yang Mengintai Jantungmu!
Dampaknya terasa luas. Arsip dari kota Ugarit di wilayah Suriah modern menggambarkan situasi yang kacau. Dalam salah satu surat, Raja Ammurapi melaporkan serangan musuh, kota yang dibakar, hingga pasukan yang tak berada di tempat. Arsip lain juga menunjukkan kondisi kelaparan yang parah hingga mengancam kehidupan penduduk.
Bencana alam turut memperparah kondisi. Para ahli menemukan bukti adanya rangkaian gempa bumi yang melanda Mediterania Timur antara tahun 1225 hingga 1175 sebelum masehi. Pola kehancuran di sejumlah kota seperti Mycenae hingga Troya menunjukkan kemungkinan terjadinya badai gempa.
Kerusakan infrastruktur membuat pertahanan kota melemah dan pemerintahan kesulitan mengendalikan wilayahnya. Dinding runtuh dan bangunan hancur menjadi bukti bahwa aktivitas seismik ikut berperan dalam mempercepat keruntuhan.
Di saat yang sama, jaringan perdagangan yang selama ini menopang peradaban ikut terganggu. Sistem ekonomi saat itu sangat bergantung pada distribusi bahan baku seperti tembaga dan timah untuk produksi perunggu. Ketika jalur perdagangan terputus akibat konflik atau perompakan, pasokan pun tersendat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
