Ketika Sri Mulyani Merasa Tertinggal, Awal Mula Lahirnya LPDP

Ketika Sri Mulyani Merasa Tertinggal, Awal Mula Lahirnya LPDP

Sri Mulyani.--Foto: Istimewa.

"Waktu saya jadi Menteri Keuangan di 2005, 2006 mulainya, itu saya merasa minder karena banyak orang Indonesia yang tidak mampu sekolah di the best university. Sesama Menkeu even di lingkungan ASEAN, Malaysia, Singapore mereka selalu bilang, 'I have my staf mereka udah belajar di Harvard, Columbia, di Stanford, di London School of Economics'. Saya bilang anak buah saya nggak ada yang lulusan situ. Dan kita merasa, we realized bahwa kita harus catching up," tutur Sri Mulyani.

Menurut dia, banyak anak bangsa sebenarnya memiliki kemampuan akademik untuk menembus kampus papan atas dunia. Hambatan utamanya terletak pada biaya pendidikan yang sangat tinggi.

"Sehingga muncullah keinginan untuk mengirimkan orang Indonesia, saya yakin mereka mampu masuk ke universitas yang top bagus di dunia, namun selama ini tidak mampu karena tidak ada biaya," ujarnya.

BACA JUGA:Trauma Masa Lalu Kembali Menghantui Skuad Meriam London, Mampukah Arsenal Menahan Tekanan dari Kejaran Manchester City?

Dorongan tersebut kemudian melahirkan gagasan pembentukan dana abadi pendidikan pada 2009. Skema ini dirancang sebagai instrumen jangka panjang untuk membiayai pendidikan sekaligus menjaga efektivitas anggaran negara di sektor pendidikan.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa pembentukan dana abadi pendidikan juga berkaitan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang mewajibkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ia menilai sebagian anggaran pendidikan saat itu belum dimanfaatkan secara optimal.

"Saya termasuk yang memulai melahirkan dana pendidikan abadi tahun 2009, dengan Rp 1 triliun waktu itu, motivasinya ada 2. Make sure bahwa 20 persen APBN yang diamanatkan konstitusi tidak wasted. Jadi kalau dia tidak terbelanjakan dia harus menjadi dana abadi. Karena waktu kita semuanya dibelanjakan, banyak sekolah yang tak mampu gunakan. Beli kursi padahal kursinya masih bagus. Ngelabur atau ngecat sekolah, ganti pager karena dia nggak tahu bagaimana dia menghabiskan dana pendidikan. Maka motif pertama adalah make sure anggaran pendidikan tidak wasted, maka dibuatlah dana abadi," urai Sri Mulyani.

Pengelolaan dana abadi tersebut kemudian dipercayakan kepada sebuah Badan Layanan Umum yang dibentuk pada 2011 dengan nama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Sejak saat itu LPDP menjadi instrumen utama pemerintah dalam membiayai pendidikan tinggi melalui skema beasiswa.

Hingga kini, LPDP telah mendanai ribuan pelajar Indonesia untuk menempuh studi di berbagai perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri. Lembaga ini juga menyalurkan pendanaan riset bagi para peneliti nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan dan inovasi di Tanah Air.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait