Bagaimana Fisika Melihat Peristiwa Isra Miraj?

Bagaimana Fisika Melihat Peristiwa Isra Miraj?

Peristiwa Isra Miraj dalam kerangka fisika modern.--Foto: Seratus Institute

JAKARTA, PostingNews.id - Peringatan Isra Miraj kembali dirayakan umat Islam hari ini. Peristiwa tersebut diyakini sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, mulai dari Makkah hingga ke langit tertinggi. Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW menerima perintah salat bagi umat Islam. Sejumlah kajian mencoba membaca peristiwa ini melalui pendekatan ilmu fisika.

Dalam literatur Islam, Isra merujuk pada perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al Aqsa di Baitul Maqdis.

Setelah itu, terjadi peristiwa Miraj, yakni naiknya Rasulullah SAW menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Di tempat tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima kewajiban salat lima waktu.

Keyakinan umat Islam menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan itu dengan Buraq. Istilah Buraq kerap diartikan sebagai kilat, yang melambangkan kecepatan luar biasa. Sejumlah ulama memaknai Buraq sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang bersifat cahaya, sehingga tidak terikat oleh batas ruang dan waktu seperti manusia.

Dalam kebudayaan Islam di berbagai wilayah, Buraq digambarkan secara beragam. Manuskrip dan lukisan dari Persia serta Asia Tengah sejak abad ke-15 kerap menampilkan sosok Buraq menyerupai kuda dengan kepala manusia. Representasi visual ini berkembang sebagai simbol, bukan deskripsi harfiah, dan memicu berbagai tafsir, termasuk dari sudut pandang sains.

BACA JUGA:Makna “Aku Melihat Cahaya” dalam Peristiwa Isra Mikraj, Benarkah Nabi Melihat Allah?

Pendekatan ilmiah terhadap konsep Buraq pernah dikaji oleh Hismatul Istiqomah dari Universitas Negeri Malang bersama Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember. Hasil kajian tersebut dipublikasikan dalam Academic Journal of Islamic Studies terbitan Institut Agama Islam Negeri Curup pada 2020.

Melalui penelitian berjudul The Concept of Buraq in the Events of Isra Mi’raj Literature and Physics Perspective, keduanya mencoba membaca peristiwa Isra Miraj dalam kerangka fisika modern. Dalam perspektif ini, Buraq tidak dipahami sebagai makhluk fisik, melainkan sebagai bentuk energi cahaya dengan kecepatan sangat tinggi.

Kajian tersebut menggunakan pendekatan fisika kuantum, khususnya teori anihilasi. Teori ini menjelaskan bahwa tumbukan antara materi dan antimateri dapat menghasilkan energi yang sangat besar. Dalam konteks Isra Miraj, tubuh Nabi Muhammad SAW diposisikan sebagai materi yang berinteraksi dengan antimateri yang diasosiasikan dengan Malaikat Jibril. Proses ini menghasilkan energi yang oleh peneliti dianalogikan sebagai Buraq.

Energi tersebut dalam fisika disepadankan dengan sinar gamma, yakni gelombang elektromagnetik berenergi tinggi yang mampu melampaui batas ruang dan waktu. Dengan pendekatan ini, peristiwa Isra dipahami sebagai fase perubahan wujud Nabi Muhammad SAW dari materi menjadi energi cahaya.

Peneliti juga mengaitkan konsep ini dengan prinsip kesetaraan massa dan energi. Dalam fisika, materi dapat berubah menjadi energi dalam kondisi tertentu, dan energi juga dapat kembali menjadi materi. Prinsip ini membuka ruang penafsiran bahwa perubahan wujud tersebut bersifat sementara.

BACA JUGA:Isra Miraj dan Misteri Waktu Malam

Setiap benda di alam semesta tersusun dari partikel submikroskopis berupa atom, yang terdiri atas proton, neutron, dan elektron. Dalam teori fisika modern, setiap materi memiliki pasangan antimateri. Berdasarkan pandangan ini, Buraq tidak diposisikan sebagai entitas terpisah yang membawa Nabi Muhammad SAW, melainkan sebagai manifestasi dari perubahan wujud dirinya sendiri.

Reaksi anihilasi juga dikenal memiliki proses kebalikan yang disebut materialisasi. Dalam proses ini, energi dalam jumlah besar dapat kembali membentuk materi dan antimateri yang sebelumnya bertumbukan.

Atas dasar kerangka tersebut, peristiwa Miraj dipahami berakhir dengan kembalinya Nabi Muhammad SAW ke wujud fisik. Setelah perjalanan itu selesai, Rasulullah SAW hadir kembali sebagai manusia seutuhnya. Ia dapat berinteraksi, menjalani kehidupan, dan menyampaikan ajaran kepada umatnya sebagaimana sebelum peristiwa Isra Miraj terjadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share