Banner Internal

Panggung Pancasila Berujung Ambyar, Mahasiswa Kepung Pejabat, Budiman Diteriaki Pengkhianat yang Kabur dari Gelanggang

Panggung Pancasila Berujung Ambyar, Mahasiswa Kepung Pejabat, Budiman Diteriaki Pengkhianat yang Kabur dari Gelanggang

Diskusi Pancasila di UGM berakhir ricuh. Mahasiswa mengepung pejabat, Budiman Sudjatmiko diteriaki pengkhianat.-Foto: Antara-

Dalam dialog terbuka tersebut, seorang mahasiswa menyoroti tanggung jawab Nusron sebagai Menteri ATR/BPN terkait alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dinilai berdampak pada masyarakat adat.

Alih-alih memberikan jawaban yang dianggap menjawab inti persoalan, Nusron justru mengajak mahasiswa datang langsung ke Papua untuk melihat kondisi di lapangan. Respons itu memicu kekecewaan baru karena dianggap menghindari substansi pertanyaan.

Tak lama kemudian, Nusron dan Sudaryono memilih meninggalkan lokasi dialog. Keduanya berjalan menuju Bundaran UGM hingga ke arah gerbang selatan kampus.

Langkah itu justru memancing reaksi mahasiswa yang merasa pertanyaan mereka belum dijawab. Massa kemudian berusaha menghalangi rombongan menggunakan pembatas jalan atau water barrier. Aksi saling dorong dan kejar-kejaran pun tak terhindarkan.

Kemarahan mahasiswa semakin menjadi setelah Budiman tidak muncul kembali di hadapan massa.

“Budiman yang pernah ikut aksi demonstrasi malah kabur, dasar pengkhianat, pengecut,” teriak peserta aksi.

Ketua Serikat Mahasiswa UGM Mesa mengatakan insiden tersebut terjadi karena para narasumber dianggap tidak bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan mahasiswa terkait konflik agraria dan arah kebijakan pembangunan pada era pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Kejar-kejaran tadi karena mereka menghindari mahasiswa. Kami tidak akan mengejar seandainya mereka menjawab satu pertanyaan saja dari kami, apakah mereka bersalah atau tidak,” ujar Mesa.

Menurut dia, mahasiswa hanya meminta penjelasan mengenai kebijakan pemerintah yang dinilai berdampak langsung pada perampasan tanah milik rakyat. Namun para pejabat justru dianggap melempar pertanyaan balik dan enggan mengakui adanya persoalan.

“Itu adalah konsekuensi pejabat publik. Kalau kami dianggap jahat, merusuh atau apa pun, sesungguhnya persoalan yang kami suarakan jauh lebih besar karena ada banyak rakyat yang tanahnya dirampas,” katanya.

Meski sempat terkepung dan dihadang ketat oleh massa mahasiswa, rombongan pejabat akhirnya berhasil keluar dari kawasan kampus dengan pengawalan aparat kepolisian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share
Seedbacklink affiliate

Berita Terkait