Usai Demo Gejayan, Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Mobil
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengaku menemukan alat pelacak misterius di mobil yang digunakannya setelah mengikuti aksi demonstrasi di Gejayan.-Foto: Instagram Tiyo Ardianto-
“Belum didata berapa banyak, tapi kemungkinan sekitar 30-an,” kata dia.
Tiyo menyayangkan jika cara-cara intimidatif digunakan untuk merespons kritik masyarakat sipil. Menurutnya, kritik yang disampaikan mahasiswa maupun kelompok masyarakat bukan ditujukan untuk menjatuhkan negara, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap arah bangsa.
Ia menilai kritik seharusnya dipandang sebagai masukan yang membantu pemerintah memperbaiki kebijakan yang dianggap bermasalah, bukan justru diperlakukan sebagai ancaman.
“Bukankah kritik itu lahir dari ketulusan mencintai negeri ini?” ujar Tiyo.
Mantan mahasiswa Filsafat UGM itu kemudian mengibaratkan kritik sebagai obat yang diberikan kepada pemerintah ketika menghadapi berbagai persoalan. Namun, menurutnya, respons yang muncul justru berlawanan.
“Betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya. Kita beri obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia justru mencoba meracuni kita,” kata Tiyo.
Hingga kini belum diketahui siapa pihak yang memasang alat pelacak tersebut maupun motif di balik keberadaannya. Namun temuan itu kembali memunculkan pertanyaan lama yang terus berulang dalam demokrasi Indonesia, apakah kritik masih diperlakukan sebagai bagian dari perbaikan, atau justru dianggap ancaman yang harus diawasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

