Lonjakan Campak Picu Peringatan IDAI, Diduga Pengaruh Antivaksin di Masyarakat
Campak.--Foto: Istimewa.
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti kembali meningkatnya kasus campak dalam beberapa waktu terakhir. Organisasi profesi tersebut menilai fenomena ini tidak lepas dari pengaruh kelompok yang menolak imunisasi. Masyarakat diminta lebih waspada sekaligus memahami risiko penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, mengatakan sikap penolakan vaksin turut berkontribusi terhadap kenaikan kasus campak. Menurut dia, masih ada kelompok masyarakat yang meremehkan dampak penyakit tersebut.
"Sampai bahkan mengatakan aktivis-aktivis antivaksin mendingan anaknya kena campak, bahkan nggak papa kena Polio (poliomyelitis)," kata Prof Anggi saat media daring, Sabtu 28 Februari 2026.
Ia mempertanyakan pandangan tersebut karena dinilai tidak memahami risiko medis yang dapat muncul akibat infeksi campak.
"Apa benar demikian? Belum tahu komplikasi campak itu apa?" sambungnya.
BACA JUGA:Roti Berjamur hingga Lauk Basi, 47 SPPG Program MBG Dihentikan Sementara
Prof Anggi menjelaskan, campak bukan sekadar penyakit infeksi ringan. Komplikasinya dapat berujung serius, terutama pada anak. Gangguan pendengaran menjadi salah satu risiko yang bisa terjadi setelah infeksi.
Selain itu, pasien juga berpotensi mengalami dehidrasi berat yang dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan kematian.
Virus campak, kata dia, juga dapat mengganggu metabolisme vitamin A dalam tubuh. Kondisi ini memicu mata kering dan meningkatkan risiko gangguan penglihatan. Pada kasus yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia yang membahayakan keselamatan pasien.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Pengurus Pusat IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso. Ia menegaskan bahwa upaya paling efektif untuk menekan penyebaran campak adalah meningkatkan cakupan imunisasi di masyarakat.
"Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, yakni penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi dan imunisasinya gratis," kata dr Piprim.
BACA JUGA:Pria Tewas Dibacok saat Tidur di Bantul Ternyata Anggota Brigade Joxzin
Ia menilai masih terdapat sejumlah kendala yang menyebabkan cakupan imunisasi belum optimal. Hambatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan akses layanan kesehatan, tetapi juga persoalan teknis dan persepsi masyarakat.
"Ada yang kesulitan akses, vaksinnya rusak karena cold chain-nya bermasalah, ada yang penolakan (vaccine hesitancy) di masyarakat, banyak isu beredar," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News