Di Balik Gurihnya Sarapan Nasi Uduk, Ada Risiko yang Sering Diabaikan
Ilustrasi nasi uduk.--Foto: YouTube
JAKARTA, PostingNews.id - Sarapan nasi uduk masih lekat dalam kebiasaan pagi banyak orang Indonesia. Menu ini mudah dijumpai di berbagai sudut kota. Rasanya gurih, praktis, dan cukup mengenyangkan untuk memulai hari. Namun, di balik kelezatannya, muncul pertanyaan soal keamanannya bila dikonsumsi rutin saat sarapan.
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, menilai konsumsi nasi di pagi hari sejatinya bukan masalah. Termasuk nasi uduk. Namun, ia menekankan pentingnya memperhatikan komposisi gizi dan porsi makan agar tak berdampak buruk bagi kesehatan.
“Tidak apa-apa (sarapan nasi uduk), cuma tetap harus hati-hati. Nasi uduk, kan, nasinya pakai santan, lauknya tahu goreng, tempe goreng, kalorinya tinggi semua, maka jangan terlalu sering,” kata Johanes kepada wartawan, dikutip Kamis, 15 Januari 2026.
Menurut dia, pola makan ideal dapat dilihat dari pembagian isi piring. Setengah bagian sebaiknya diisi sayur dan buah. Separuh lainnya diisi sumber protein dan karbohidrat. Pola ini membantu menjaga keseimbangan asupan gizi sekaligus mencegah kelebihan kalori.
Masalahnya, nasi uduk dimasak menggunakan santan. Kandungan lemak jenuhnya lebih tinggi dibanding nasi putih biasa. Kondisi ini kerap diperparah dengan lauk pendamping seperti tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, kerupuk, hingga sambal berbahan santan.
BACA JUGA:Posisi BAB Duduk Dinilai Tingkatkan Risiko Wasir, Ini Penjelasan Dokter
“Orang Indonesia sering mengonsumsi nasi sampai satu piring muncung. Itu tidak baik dari segi kesehatan karena nanti menambah risiko terjadinya asupan kalori yang berlebihan,” ujarnya.
Asupan berlebih, terlebih jika terjadi setiap hari, dapat meningkatkan total kalori dan lemak jenuh yang masuk ke tubuh. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko memicu kenaikan berat badan. Risiko lain yang mengintai adalah gangguan metabolik.
Meski begitu, Johanes menegaskan nasi uduk bukan makanan yang harus dihindari sepenuhnya. Menu ini masih bisa dikonsumsi, asal tidak terlalu sering dan tetap memperhatikan keseimbangan gizinya.
“Kalau cuma seminggu sekali masih oke. Tapi hari-hari lain, Senin sampai Jumat, usahakan makan yang lebih sehat,” ujarnya.
Ia menyarankan sejumlah penyesuaian agar nasi uduk lebih ramah bagi kesehatan. Porsi nasi sebaiknya dibatasi. Lauk bisa diganti dengan sumber protein rendah lemak seperti telur rebus atau ayam tanpa kulit. Konsumsi kerupuk dan gorengan juga perlu dikurangi.
BACA JUGA:Cek di Sini! Link Download Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans
Selain itu, Johanes mengingatkan pentingnya protein saat sarapan. Protein membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Zat gizi ini juga berperan dalam pembentukan antibodi dan menjaga daya tahan tubuh sehingga tubuh tetap bertenaga sepanjang hari.
“Protein itu penting supaya kita nggak cepat lapar dan tetap produktif,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News