Usai 10 Hari di Antariksa, Astronaut Artemis II Alami Gangguan Berjalan Gegara Ini
Artemis II--Google
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Salah satu astronaut di misi Artemis II yaitu Christina Hammock Koch telah membagikan beberapa pengalamannya untuk dapat belajar berjalan dengan gravitasi bumi, yang dimana ia sudah 10 hari berada di luar angkasa.
Video yang sedang beredar diunggah oleh @astro_christina, dirinya mengatakan bahwa perjalanan dari rehabilitasi yang dimana sangat tidak mudah.
Pendaratan di laut lepas California hanyalah sebuah awal dari kembalinya Koch ke kehidupan normal.
Dalam video yang di unggah tersebut, Christina Hammock Koch terlihat kesulitan untuk terus tetap tegak saat berjalan lurus, bahkan sudah seminggu setelah mendarat di perairan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pada otaknya masih terus berusaha untuk menentukan arah.
"Ketika orang hidup dalam gravitasi mikro, sistem dalam tubuh kita yang telah berevolusi untuk memberi tahu otak kita bagaimana kita bergerak, organ vestibular, tidak bekerja dengan benar" tulis Christina Hammock Koch.
"Otak kita belajar untuk mengabaikan sinyal-sinyal itu dan jadi ketika kita pertama kali kembali ke gravitasi, kita sangat bergantung pada mata kita untuk mengarahkan diri kita secara visual" lanjutnya.
Menurut Christina Hammock Koch sendiri, dalam mempelajari hal ini akan dapat membantu untuk menginformasikan bagaimana seseorang dapat mengobati penyakit vertigo, gegar otak, bahkan kondisi neuro-vestibular lainnya yang ada di Bumi.
BACA JUGA:Samsung A27 Segera Rilis: HP Mid-Range tapi Rasa Flagship, Intip Spesifikasinya Sekarang!
Christina Hammock Koch juga mengatakan bahwa dirinya bersama 3 rekan astronaut lainnya, kini telah kembali untuk berapdatasi dengam gravitasi Bumi pada 7 hari pasca-splashcown atau pendaratan.
Jika astronaut semakin lama berada di luar angkasa, makan akan semakin sulit juga otaknya untuk dapat beradaptasi dengan gravitasi yang ada di bumi.
Gangguan kontrol untuk keseimbangan dapat menyebabkan masalah koordinasi mata-tangan, bahkan terjadi hilangnya stabilitas tau kestabilan pada postur tubur, serta masalah pada penglihatan dan persepsi.
Setelah mendarat, gangguan tersebut akan mempersulit awak kapal untuk dapat memulai operasi yang dilakukan, seperti berjalan dari kapal pendaratan ke lingkungan asal mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
