Bikin Konten Saja Tak Cukup, Ini 5 Strategi Jitu Agar Media Sosial Bisa Jadi Ladang Cuan
Jessica Gautama, Chief Marketing Officer SCGI Agency berbagi insight seputar cara cari duit di media sosial dan konten kreatif--Istimewa
BACA JUGA:Imbas Erupsi Anak Krakatau, Seluruh Penerbangan Garuda Rute Jakarta Dibatalkan hingga Besok
3. Pesan yang Konsisten
Satu campaign sebaiknya memiliki satu core message atau big idea yang sama meski cara menyampaikannya harus mengikuti karakter masing-masing platform.
“Consistent message doesn’t mean identical content,” kata Jessica.
TikTok misalnya, bisa dengan konten yang lebih raw, entertaining dan conversation-driven. Sementara Instagram lebih visual dan aspirational. Sedangkan platform lain seperti YouTube mungkin lebih cocok untuk edukasi atau storytelling yang lebih panjang.
Jadi, yang dijaga konsistensinya adalah pesan, positioning dan brand character, bukan format kontennya. Kesalahan yang sering terjadi adalah sekadar copy-paste satu konten ke semua platform. Padahal, setiap platform punya culture dan audience behavior yang berbeda.
BACA JUGA:Cuma Punya Budget Campaign Rp10 Juta? Begini Strategi UKM Biar Penjualan E-Commerce Naik
4. Bangun Positioning dan Karakter
Kalau tujuannya monetisasi, jangan hanya mengejar follower. Mulai dengan membangun positioning, membentuk karakter dan proof of influence.
Brand sekarang tidak selalu mencari creator dengan follower terbesar. Mereka mencari creator yang punya audience jelas, engagement sehat, karakter kuat dan yang paling penting mampu membuat audiens percaya atau melakukan action.
“Jadi, dibanding menjadi creator yang membahas semuanya, lebih baik punya area atau point of view yang mudah dikenali. Tunjukkan kemampuan membuat branded content secara natural. dan siapkan media kit yang berisi audience profile serta performance,” ujarnya.
Dan jangan hanya menunggu endorse. Monetisasi bisa datang dari berbagai pintu; brand partnership, affiliate, live/social commerce, UGC creation, sampai menjadi KOL atau creative partner untuk brand.
BACA JUGA:Bukan Cuma Mobil Listrik! Indonesia Bidik Raja BESS dan Energi Terbarukan Lewat IBS 2026
5. Optimalisasi Data dan Engagement
Data jangan hanya dipakai untuk membuat report, tapi untuk menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.
“Jangan berhenti mengekspor data hanya dari likes atau views. Lihat jauh lebih dalam. Bedah konten mana yang paling banyak menghasilkan watch time, shares, saves, comments, profile visits sampai conversion. Kemudian cari polanya,” katanya.
Lihat apakah audience lebih responsif terhadap edukasi, entertainment, storytelling, atau product demonstration. Selain itu, gali lebih dalam hook seperti apa yang membuat mereka bertahan dan topik apa yang paling banyak memancing percakapan.
Dari situ kita membuat feedback loop: publish → measure → learn → optimize → repeat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
