Perkembangan tersebut membuat DNA forensik menjadi salah satu instrumen penting dalam proses penegakan hukum modern.
Brigjen Sumy Hastry, Puluhan Tahun Bergelut dengan Forensik
Nama Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti dikenal luas di bidang kedokteran dan DNA forensik.
Ia disebut sebagai ahli DNA forensik perempuan pertama di Indonesia, bahkan Asia. Selama berkarier, Brigjen Hastry terlibat dalam berbagai proses autopsi dan identifikasi korban, baik dalam perkara kriminal maupun kecelakaan.
Pada 2025, ia dipercaya menduduki posisi Karodokpol Pusdokkes Polri.
Perjalanan pendidikannya juga cukup panjang. Brigjen Hastry menyelesaikan pendidikan profesi dokter di Universitas Diponegoro pada 1997. Pendidikan spesialis forensik juga ditempuh di kampus yang sama dan selesai pada 2005.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Airlangga dan meraih gelar doktor pada 2016.
Di lingkungan kepolisian, Brigjen Hastry juga mengikuti sejumlah pendidikan, mulai dari SEPA Polri angkatan V pada 1998, SELAPA Polri angkatan XLII pada 2010, Diklat PIM II pada 2015 hingga PKN Tingkat I pada 2020.
Bagi Brigjen Hastry, Autopsi Adalah Jalan Mencari Keadilan
Selama sekitar 25 tahun berkecimpung di dunia forensik, Brigjen Hastry memandang autopsi bukan sekadar proses untuk mengetahui penyebab kematian.
Baginya, pemeriksaan terhadap jenazah juga berkaitan dengan upaya memberikan kepastian identitas dan mencari keadilan bagi korban.
"Karena tanpa itu, mereka akan pergi secara cuma-cuma," ujarnya.
Kisah perjalanan Brigjen Hastry selama puluhan tahun di dunia forensik bahkan diangkat ke layar lebar melalui film berjudul Autopsy: Dead Body Can Talk.
Film tersebut dijadwalkan tayang pada 2026 dan mengangkat perjalanan serta pengalaman Brigjen Hastry dalam menjalankan profesinya di bidang forensik.
BACA JUGA:Teknisi AHASS Jakarta-Tangerang Tembus Juara Nasional, Bukti WMS Perkuat Standar Layanan Honda
Profil Singkat Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti
Nama: Sumy Hastry Purwanti
Lahir: 23 Agustus 1970