POSTINGNEWS.ID -- Perkembangan teknologi forensik membuat proses pengungkapan kasus kriminal semakin berkembang. Salah satu metode yang kini memiliki peran penting adalah pemeriksaan DNA forensik.
Jejak biologis yang terlihat sederhana di tempat kejadian perkara (TKP) ternyata bisa menjadi petunjuk penting bagi penyidik. Mulai dari bercak darah, rambut, air liur, hingga sel kulit yang tertinggal pada sebuah benda dapat diperiksa untuk mendapatkan profil DNA.
Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.FM DFM mengatakan, DNA forensik telah digunakan dalam berbagai perkara hukum. Teknologi tersebut tidak hanya membantu mengidentifikasi pelaku, tetapi juga korban maupun hubungan biologis seseorang.
“Di ranah hukum global dan domestik, teknologi ini bertindak sebagai alat bukti mutlak. Akurasi DNA Forensik sebagai alat bukti 99,99 persen,” kata Brigjen Hastry, Selasa (4/8/2026) lalu.
BACA JUGA:AHSRIC 2026 Tuntas, Ini Daftar Juara Instruktur Safety Riding Honda dari Berbagai Daerah
Apa Itu DNA Forensik?
DNA merupakan singkatan dari DeoxyriboNucleic Acid atau asam deoksiribonukleat. Molekul ini terdapat di dalam sel makhluk hidup dan membawa informasi genetik yang menjadi karakteristik biologis setiap individu.
Dalam pemeriksaan forensik, keunikan DNA tersebut dimanfaatkan untuk membandingkan material biologis yang ditemukan dengan profil DNA seseorang.
DNA forensik pada dasarnya merupakan penerapan analisis DNA untuk kebutuhan hukum. Pemeriksaan ini dapat membantu penyidik mengidentifikasi seseorang, menghubungkan barang bukti dengan individu tertentu, maupun mencocokkan bukti biologis dari beberapa lokasi kejadian.
Menurut Brigjen Hastry, DNA memiliki peran penting dalam dunia forensik karena mempunyai karakteristik yang unik, konsisten dan relatif stabil.
“DNA sangat berperan di dunia forensik karena memiliki keunikan, konsistensi dan kestabilan,” katanya.
BACA JUGA:Drama Lap Terakhir Mandalika, Irfan Ardiansyah Bawa AHRT Menang di ARRC 2026
Jejak DNA Bisa Tertinggal di Banyak Benda
Salah satu kelebihan pemeriksaan DNA adalah sumber sampelnya bisa berasal dari berbagai jejak biologis manusia.
Di TKP, misalnya, petugas dapat menemukan bercak darah, rambut, maupun air liur. Sel epitel dari bibir juga bisa tertinggal pada benda yang pernah disentuh atau digunakan seseorang.
Jejak tersebut dapat ditemukan pada cangkir, alat makan, masker, puntung rokok hingga bekas gigitan.
Ada pula yang disebut sebagai DNA touch. Jejak ini berasal dari sel kulit yang tertinggal ketika seseorang menyentuh permukaan benda.