Isu kesejahteraan turut masuk dalam daftar tuntutan. Massa meminta pendidikan gratis yang berkualitas, layanan kesehatan tanpa diskriminasi, penurunan harga kebutuhan pokok, BBM, serta tarif layanan dasar yang dinilai semakin memberatkan masyarakat.
Menurut mereka, rakyat tidak semestinya menanggung konsekuensi dari salah urus negara maupun praktik korupsi.
Perhatian juga diberikan kepada kelompok pekerja yang selama ini berada di lapisan paling rentan. Massa meminta perlindungan yang lebih kuat bagi pekerja rumah tangga, buruh tani, buruh tambang, buruh pabrik, guru, hingga pekerja platform digital.
Sementara untuk pengemudi ojek online, massa mendesak pemerintah menindak perusahaan aplikasi yang dianggap melanggar sejumlah ketentuan kemitraan. Mereka juga meminta penyusunan regulasi transportasi online yang melibatkan langsung organisasi pengemudi.
Tuntutan lainnya mencakup pembebasan tahanan politik, penghentian kriminalisasi warga yang mengkritik pemerintah, perlindungan hak atas tanah dan ruang hidup, hingga pengusutan tuntas kasus dugaan korupsi pembangunan Stadion Mandala Krida di Yogyakarta.
Aksi di Gejayan kali ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan publik tidak lagi berdiri pada satu isu tunggal. Dari MBG, BBM, demokrasi, pendidikan, hingga kesejahteraan pekerja, semuanya berkumpul dalam satu panggung yang sama.
Dan seperti yang pernah terjadi pada berbagai fase politik sebelumnya, Gejayan kembali mengirim pesan bahwa ketika saluran kritik dianggap menyempit, jalanan selalu menemukan caranya sendiri untuk berbicara.