Hingga saat ini, belum terdapat informasi resmi mengenai siapa pihak yang diduga bertanggung jawab atas pemasangan perangkat tersebut.
BACA JUGA:Tak Tinggal Diam, UGM Aktifkan Perlindungan ke Ketua BEM Usai Teror Terkait Kasus Anak NTT
Alat Pelacak Langsung Diamankan
Setelah temuan itu diketahui, sejumlah rekan dekat memberikan saran agar perangkat tersebut segera diamankan terlebih dahulu.
Langkah cepat dilakukan untuk mencegah kemungkinan alat tersebut tetap mengirimkan data lokasi kepada pihak tertentu.
Tiyo kemudian mengikuti arahan tersebut sebelum melakukan langkah lanjutan terkait temuan yang dianggap cukup serius.
Peristiwa ini memicu diskusi mengenai pentingnya perlindungan privasi dan keamanan digital bagi masyarakat sipil.
BACA JUGA:BEM Unpad Sindir KDM: Donasi Rp1.000 Sehari Itu Bukan Solidaritas, tapi Pemaksaan Halus
Rekan Mahasiswa Juga Mengaku Mendapat Pesan Misterius
Tidak hanya soal alat pelacak, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam lingkungan organisasi kampus juga mengaku mengalami gangguan.
Gangguan tersebut berupa pesan misterius yang diterima setelah berlangsungnya aksi demonstrasi di kawasan Gejayan.
Menurut keterangan Tiyo, jumlah penerima pesan belum didata secara menyeluruh hingga saat ini.
Meski demikian, perkiraan awal menunjukkan jumlah penerima pesan misterius tersebut mencapai puluhan orang.
Kondisi itu membuat dugaan adanya pola intimidasi menjadi semakin ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan.
BACA JUGA:Teriakan 17+8 Belum Padam, BEM dan Buruh Bersiap Strategi Panjang
Tanggapan Tiyo Ardianto Soal Dugaan Intimidasi
Tiyo menyampaikan keprihatinannya terhadap praktik yang dianggap dapat menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat sipil.
Menurutnya, kritik yang disampaikan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi yang sehat dan terbuka.
Ia menilai suara kritis seharusnya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki berbagai persoalan yang terjadi.