Namun pandangan berbeda datang dari kalangan pelaku pasar.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi justru memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih belum selesai. Menurutnya, mata uang Garuda berpotensi terus melemah hingga menyentuh level Rp19.000 per dolar AS sebelum akhir bulan ini jika gejolak geopolitik global berlanjut dan bank sentral Amerika Serikat tetap mempertahankan atau menaikkan suku bunga acuannya.
“Artinya, ada kemungkinan indeks dolar akan kembali menguat tajam,” kata Ibrahim melalui pesan suara pada Ahad, 7 Juni 2026.
Ibrahim menjelaskan penguatan dolar AS berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperberat tekanan terhadap rupiah. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pasar logam mulia dan mendorong masyarakat memburu dolar sebagai aset lindung nilai.
Di tengah dua pandangan yang bertolak belakang itu, publik kini dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Pemerintah optimistis rupiah akan segera bangkit, sementara sebagian pelaku pasar justru melihat risiko pelemahan lebih dalam masih terbuka lebar.
Pertanyaannya sederhana. Apakah imbauan melepas dolar saat rupiah masih berada di zona terlemah sepanjang sejarah merupakan sinyal kepercayaan diri pemerintah, atau justru pertaruhan yang terlalu berani?