Karena itu, ia menolak anggapan bahwa masyarakat sipil telah kehilangan daya. Konsolidasi yang berlangsung di Yogyakarta justru dianggap sebagai bukti masih adanya energi perlawanan terhadap gejala kemunduran demokrasi.
Menurut dia, gerakan serupa harus diperluas ke berbagai kota dan melibatkan lebih banyak anak muda. Generasi muda dinilai menjadi kelompok yang paling mungkin menjaga jarak dari kepentingan kekuasaan dan transaksi politik praktis.
Saiful juga mengaku tidak terlalu berharap pada sejumlah organisasi keagamaan yang belakangan dinilainya semakin dekat dengan lingkar kekuasaan. Karena itu, pembaruan gerakan masyarakat sipil harus bertumpu pada lahirnya kepemimpinan moral baru yang tidak digerakkan oleh kepentingan bisnis maupun perebutan jabatan.
Di tengah semakin menguatnya konsentrasi kekuasaan, peringatan Saiful menjadi sinyal bahwa perdebatan soal kualitas demokrasi Indonesia belum selesai. Bahkan, jika kritik-kritik semacam ini terus bermunculan, Pemilu 2029 tampaknya bukan hanya soal memilih presiden baru, melainkan juga pertaruhan tentang apakah demokrasi masih dipercaya sebagai jalan utama menyelesaikan persoalan bangsa.