JAKARTA, PostingNews.id — Payung-payung hitam kembali dibuka di depan Istana Merdeka. Bukan karena hujan turun, tapi karena sebagian orang merasa cita-cita Reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan kehilangan justru makin jauh dari kenyataan.
Aksi Kamisan ke-908, yang digelar bertepatan dengan 28 tahun Reformasi 1998, dipadati lebih dari seribu peserta. Mahasiswa, aktivis, akademikus sampai pelajar berkumpul dengan satu kegelisahan yang mirip, Indonesia seperti terus bergerak maju secara umur, tapi belum tentu secara demokrasi.
Di tengah orasi bergantian, mahasiswa Universitas Indonesia, Albani Ilmi, melontarkan kalimat yang nadanya lebih mirip duka daripada peringatan tahunan.
“Banyak sekali darah pengorbanan, banyak sekali tangisan keluarga korban, tapi saat ini kondisi cita-cita Reformasi seperti sudah tidak lagi berdiri,” kata Albani saat berorasi.
Kalimat itu bukan muncul tiba-tiba. Kekecewaan peserta aksi berangkat dari anggapan bahwa hal-hal yang dulu dilawan pada 1998 justru kembali terlihat dengan wajah baru.
BACA JUGA:9 WNI Disandera Israel, MUI Sentil Keras Prabowo: BoP Jangan Cuma Jadi Pajangan Diplomasi!
Albani menyinggung soal nepotisme dalam politik nasional. Menurutnya, praktik yang dulu jadi musuh utama Reformasi kini seperti hadir lagi dengan kemasan lebih rapi. Ia mencontohkan proses pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dimungkinkan setelah perubahan aturan di Mahkamah Konstitusi saat lembaga itu dipimpin Anwar Usman, yang juga paman Gibran.
Bagi sebagian peserta aksi, itu bukan sekadar perdebatan hukum, tapi simbol bahwa kedekatan keluarga dan kekuasaan belum benar-benar pergi dari panggung politik Indonesia.
Tak berhenti di situ, kritik juga diarahkan ke meningkatnya peran militer di ruang sipil. Menurut Albani, gejala yang dulu ditolak keras saat Reformasi perlahan kembali muncul.
“Hantu bayang-bayang dwifungsi ABRI mulai kembali, bahkan kata-katanya pejabat TNI mengakui sekarang bukan dwifungsi, kata-katanya sekarang multifungsi,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tapi juga peringatan. Sebab bagi generasi yang mengenal sejarah Orde Baru, istilah dwifungsi bukan sekadar teori politik. Ia pernah menjadi kenyataan yang mengatur banyak ruang kehidupan.
Sepanjang aksi, spanduk kritik, puisi, pertunjukan musik, dan teater bergantian memenuhi kawasan depan istana. Kamisan tetap berjalan dengan format yang sama selama bertahun-tahun, mengingatkan negara tentang luka lama yang belum selesai.
Ketua Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi Jakarta, Damar Setyaji, memperkirakan massa yang hadir mencapai lebih dari seribu orang.
“Sepertinya peserta sampai ribuan, lebih dari seribu,” kata Damar.