Masalah lain juga muncul. Sejumlah kontrak pembelian disebut belum mencakup dukungan suku cadang jangka panjang. Akibatnya, ketergantungan terhadap produsen luar negeri tetap tinggi.
“Tidak ada jaminan ketika kita menerima alutsista baru, di tahun berikutnya ada anggaran untuk perawatan dan suku cadang,” kata Alman.
Kalimat itu mungkin terdengar teknis. Tapi kalau diterjemahkan lebih sederhana, maknanya begini. Indonesia kadang bisa membeli barang perang mahal, namun belum tentu siap membiayai hidup barang itu dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, pertanyaan lama muncul lagi. Apakah modernisasi pertahanan Indonesia benar-benar soal kesiapan tempur, atau kadang masih berkutat pada semangat belanja sementara urusan perawatan dianggap bisa dipikirkan belakangan.