Alutsista Baru Datang, Anggaran Perawatan Entah Kapan, Pertahanan RI Kok Kayak Kredit Motor?

Minggu 17-05-2026,08:23 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Indonesia belakangan rajin belanja alat utama sistem persenjataan alias alutsista. Kapal perang datang, pesawat tempur dibeli, platform baru dipamerkan. Tapi ada pertanyaan yang mengganggu dan mungkin agak nyinyir, buat apa beli kendaraan perang mahal kalau amunisi, suku cadang, sampai biaya perawatannya masih mikir nanti?

Masalah itu muncul dalam diskusi yang digelar Marapi Consulting & Advisory pada 11 Mei 2026. Sejumlah pengamat dan mantan petinggi militer menilai modernisasi pertahanan Indonesia belum sepenuhnya diikuti kesiapan sistem pendukung. Alutsista ada, tapi urusan kesiapan tempur sering belum selesai.

Mantan Kepala Bakamla, Laksamana Madya TNI (Purn) Desi Albert Mamahit mengatakan pengadaan alutsista selama ini sebenarnya disusun berdasarkan ancaman masa depan, perkembangan teknologi militer, sampai kemampuan anggaran negara.

Namun menurut dia, kondisi fiskal membuat pemerintah harus memilih jalan bertahap. Platform utama dibeli dulu, urusan lain menyusul.

“Ketika kita membeli platform, kita juga memikirkan sistem persenjataannya,” kata Desi dikutip dari siaran pers, Ahad, 17 Mei 2026.

BACA JUGA:Rekomendasi 5 Motor Listrik Terbaik Buat Perempuan: Murah dan Harga di Bawah Rp15 Juta (Keluaran 2026, Beib)

Kalimat itu terdengar menenangkan. Persoalannya, memikirkan dan menyediakan kadang berjarak cukup jauh.

Ketua Harian Perhimpunan Industri Pertahanan Swasta Nasional, Mayor Jenderal TNI (Purn) Jan Pieter Ate, mengingatkan kesiapan tempur tidak ditentukan cuma oleh kendaraan perang atau kapal tempur yang kinclong. Sistem senjata, personel terlatih, logistik sampai rantai dukungan operasional justru ikut menentukan.

Menurut dia, pengadaan alutsista seharusnya tak semata tunduk pada kemampuan anggaran negara, tapi berangkat dari kebutuhan operasi militer sesungguhnya.

“Semangat dari pengadaan alutsista adalah menghadirkan kesiapan operasional,” ujar Jan Pieter.

Artinya sederhana. Tujuan beli alutsista mestinya supaya siap dipakai bertempur, bukan sekadar menambah daftar inventaris.

Pengamat militer sekaligus konsultan pertahanan Marapi Consulting & Advisory, Alman Helvas Ali, menyoroti persoalan yang lebih membumi, yakni anggaran perawatan. Menurut dia, kedatangan alutsista baru sering membuat biaya pemeliharaan alat lama terdorong ke pinggir.

BACA JUGA:Redmi Turbo 5 Segera Rilis: Bawa Baterai Monster dan Fitur Rasa Flagship!

Situasi itu menciptakan lingkaran yang agak ironis. Barang baru datang supaya pertahanan makin kuat, tapi anggaran menjaga alat lama justru dipangkas agar alat baru bisa tetap hidup.

Alman mencontohkan kapal perang PPA yang sampai sekarang belum dipasangi rudal produksi MBDA. Penyebabnya bukan semata urusan domestik, melainkan antrean produksi global setelah pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Kategori :