Aleksander Hancurkan Persia, Ternyata Bukan Jago Sendiri, Tapi Warisan Bapak

Minggu 26-04-2026,10:12 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Saat Darius III kabur di Issus tahun 333 SM, Aleksander tidak langsung mengejar. Ia justru mengamankan wilayah pesisir dan Mesir lebih dulu, baru kemudian menghantam Persia lagi di Gaugamela.

Ketika Darius kabur lagi, pengejaran dilakukan tanpa henti sampai raja itu akhirnya tewas dibunuh orangnya sendiri pada 330 SM.

Persiapan Kejam, Termasuk Hancurkan Kota Sendiri

Sebelum menyerbu Persia, Aleksander lebih dulu membereskan ancaman di dalam negeri.

Ia menumpas suku-suku Balkan, lalu menghadapi pemberontakan kota-kota Yunani. Sebagian besar memilih menyerah, tapi Thebes nekat melawan.

Hasilnya brutal. Kota itu dihancurkan, penduduknya dibunuh atau diperbudak.

“Penghancuran Thebes sangat brutal, dan hal itu sangat menghalangi pemberontakan lebih lanjut selama pertempuran Persia berlangsung,” tulis Barron.

Langkah ini memberi satu keuntungan besar, Aleksander bisa fokus penuh menyerang Persia tanpa gangguan dari belakang.

BACA JUGA:UTBK Diserang Joki dan Alat Canggih, Kampus Putus Sinyal dan Bongkar Modus Curang Peserta

Aleksander juga tak asal menaklukkan wilayah. Ia tahu cara menjaga kekuasaan.

Dididik oleh Aristoteles sejak muda, ia tidak memaksakan budaya Yunani sepenuhnya. Ia justru menggabungkan tradisi Persia dan Yunani.

Ia mempertahankan pejabat lokal, mengadopsi budaya setempat, dan menghindari pemberontakan besar. Ini bukan sekadar perang, tapi strategi kekuasaan jangka panjang.

Satu hal yang bikin Aleksander berbeda dari banyak raja lain adalah cara memimpin.

Ia tidak berdiri di belakang. Ia maju di garis depan, memimpin serangan kavaleri sendiri, termasuk saat menyeberangi sungai di Granicus.

Keberanian ini membuat pasukannya ikut nekat. Nama Aleksander menyebar lebih dulu sebelum pasukannya datang, membuat banyak kota memilih menyerah tanpa perlawanan.

Karisma ini jadi senjata psikologis yang sama kuatnya dengan pedang.

Kategori :