JAKARTA, PostingNews.id — Kisah Aleksander Agung selama ini sering dibungkus sebagai cerita jenius perang yang tak terkalahkan. Tapi kalau ditarik lebih dalam, kemenangan besar itu ternyata bukan semata hasil kehebatan pribadi.
Ia memang berhasil menjatuhkan Kekaisaran Persia Akhemenid, musuh lama Yunani kuno yang sudah bertahan lebih dari satu abad. Puncaknya terjadi dalam Pertempuran Gaugamela pada 331 SM, disusul kematian Raja Persia Darius III setahun kemudian.
Namun di balik kemenangan cepat itu, ada fondasi panjang yang jarang disorot.
“Ia kemungkinan besar tidak akan mampu mengalahkan Kekaisaran Persia tanpa fondasi yang dibangun oleh ayahnya, Philip II,” tulis Kiegan Barron.
Sebelum Aleksander naik takhta, ayahnya Philip II sudah lebih dulu merombak total mesin perang Makedonia.
Ia membangun tentara profesional yang jauh lebih disiplin dibanding pasukan Yunani lain yang berbasis warga sipil. Formasi phalanx Makedonia diperkuat dengan tombak panjang sarissa hingga 6 meter, membuat serangan musuh nyaris mustahil menembus barisan depan.
BACA JUGA:Rahasia Umur Panjang Terbongkar, Sains Bilang 50 Persen Ditentukan Gen, Sisanya Gaya Hidup
Tak cuma itu, unit kavaleri elite Companions disiapkan untuk menerobos pertahanan lawan di momen krusial.
Hasilnya, sebelum Aleksander berperang, Yunani sudah lebih dulu berada di bawah kendali Makedonia melalui League of Corinth.
Dengan kata lain, Aleksander tidak memulai dari nol. Ia tinggal melanjutkan mesin perang yang sudah matang.
“Meskipun Aleksander Agung mewarisi pasukan yang unggul dan Yunani yang bersatu, ia memanfaatkan keunggulan ini melalui kecemerlangan taktisnya,” lanjut Barron.
Kalau ada satu hal yang membedakan Aleksander, itu adalah kecepatannya. Dalam Pertempuran Granicus tahun 334 SM, ia langsung menyerang menyeberangi sungai tanpa menunggu kondisi ideal. Langkah nekat ini membuat Persia kelabakan.
BACA JUGA:Anak Indonesia Dikepung Makanan Instan, Ilmuwan Bongkar Fakta UPF Bikin Generasi Sakit Pelan-Pelan
Korban di pihak Persia dilaporkan mencapai sekitar 5.000 orang, sementara pasukan Makedonia kurang dari 500.
Bukan cuma di medan tempur, strategi cepat ini juga diterapkan antarperang. Aleksander terus bergerak tanpa memberi waktu Persia untuk menyusun ulang kekuatan.