Ambang Batas Mau Dinaikkan, Partai Kecil Siap Disingkirkan dari Senayan

Jumat 24-04-2026,09:19 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Wacana menaikkan ambang batas parlemen kembali digulirkan partai politik. Kali ini datang dari Partai NasDem yang terang-terangan ingin angka threshold tak lagi berhenti di 4 persen.

Anggota Komisi II DPR dari NasDem, Rifqinizamy Karsayuda, menyebut angka ideal seharusnya dinaikkan ke level yang lebih tinggi. Menurut dia, batas minimal suara untuk masuk DPR bisa didorong di atas 5 persen.

“Kami mengusulkan angkanya naik dari 4 persen sekarang menjadi angka moderat di atas 5 persen. 5,5, 6, hingga 7 persen,” kata Rifqi, Kamis, 23 April 2026.

Bagi NasDem, ambang batas parlemen bukan sekadar angka teknis. Mereka melihat aturan ini sebagai alat untuk memperkuat sistem kepartaian, khususnya dalam hal kelembagaan partai.

“Institusionalisasi parpol itu tercermin dari kuatnya akar struktur partai politik dan signifikannya suara parpol di dalam pemilu,” ujar Rifqi.

BACA JUGA:Poco M8s 5G Siap Rilis: Baterai Monster 7.000mAh Siap Pikat Pasar Global, Intip Disini Spesifikasinya!

Di balik alasan itu, pesan politiknya cukup jelas. Semakin tinggi ambang batas, semakin sedikit partai yang bisa lolos ke Senayan.

Usulan serupa juga datang dari Partai Golkar. Wakil Ketua Umumnya, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, menyebut angka ideal berada di rentang 4 hingga 6 persen.

“Ambang batas parlemen di angka 4-6 persen adalah yang ideal,” kata Doli, Rabu, 22 April 2026.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Golkar Muhammad Sarmuji memilih angka yang lebih spesifik. Ia mendorong threshold di level 5 persen sebagai kompromi antara kebutuhan sistem dan realitas politik.

“Angka 5 persen itu bisa menciptakan sistem multipartai yang sederhana,” kata Sarmuji, Sabtu, 28 Februari 2026.

BACA JUGA:PDIP Desak Revisi UU Pemilu Dipercepat, Faktanya DPR Masih Duduk Santai

Meski begitu, Sarmuji mengakui ada konsekuensi dari kebijakan ini. Tidak semua suara rakyat akan terkonversi menjadi kursi di parlemen. Namun, menurut dia, risiko itu tetap harus diterima demi penyederhanaan sistem politik.

Dengan dorongan dari partai-partai besar, arah kebijakan ini mulai terlihat. Ambang batas bukan lagi sekadar filter, tapi bisa menjadi pintu sempit yang menentukan siapa bertahan dan siapa tersingkir dari panggung kekuasaan.

Kategori :