Isu Jokowi Mau Kuasai Partai Ditepis Keras, PSI Sentil Balik Siapa yang Panik

Kamis 16-04-2026,10:23 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Isu mantan Presiden Joko Widodo ingin mengambil alih partai politik kembali beredar. Namun kabar itu langsung dibantah oleh elite Partai Solidaritas Indonesia yang menilai tudingan tersebut tak masuk akal.

Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menegaskan, jika Jokowi memang punya ambisi menguasai partai, langkah itu sudah bisa dilakukan saat masih menjabat sebagai presiden.

“Kalau Pak Jokowi mau mengambil alih partai, itu bisa saja dilakukan ketika beliau masih menjabat sebagai presiden,” kata Ahmad Ali usai bertemu Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Kamis, 16 April 2026.

Menurut dia, selama berkuasa Jokowi justru tidak pernah menggunakan kewenangannya untuk mencampuri urusan internal partai lain. Karena itu, ia mempertanyakan logika di balik isu yang muncul setelah Jokowi tak lagi memegang kekuasaan.

“Ketika dia berkuasa, dia tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk mengambil alih partai politik. Sekarang setelah beliau tidak berkuasa, untuk apa mengambil alih partai? Lebih baik membesarkan partai yang sudah ada hari ini,” ujarnya.

BACA JUGA:Alexander Isak Jadi 'Pajangan' di Anfield, Liverpool Hancur Lebur Dilibas PSG!

Ahmad Ali juga menyebut isu tersebut bukan muncul tanpa sebab. Ia menduga ada pihak tertentu yang sedang merasa terancam sehingga menggulirkan narasi tersebut ke publik.

“Saya pikir Pak Jokowi sudah menjawab tentang isu-isu itu. Pak Jokowi sudah menjelaskan itu tidak mendasar sama sekali,” tuturnya.

Di tengah polemik itu, PSI mengaku tidak tertarik ikut campur urusan partai lain. Fokus utama mereka saat ini adalah membangun kekuatan internal untuk menghadapi Pemilu 2029.

“Karena kami sendiri sedang berusaha untuk membangun Partai Solidaritas Indonesia agar bisa lolos di pemilu 2029,” kata Ahmad Ali.

Sebelumnya, laporan Majalah Tempo menyebut Jokowi sempat menjajaki peluang mengelola NasDem Tower, termasuk kemungkinan terlibat dalam pengelolaan organisasi partai. Isu ini kemudian dikaitkan dengan posisi Gibran Rakabuming Raka yang disebut belum memiliki kendaraan politik setelah keluar dari PDI Perjuangan.

BACA JUGA:NasDem Ngamuk ke Tempo Soal Surya Paloh, Kritik Dibalas Demo Ribuan Kader

Namun Jokowi sudah lebih dulu membantah kabar tersebut. Ia bahkan menyindir soal besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengakuisisi partai sebesar NasDem.

“Kelas saya itu usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujar Jokowi pada Jumat, 10 April 2026.

Pernyataan itu seolah menutup spekulasi, tapi di tengah dinamika politik yang terus bergerak, isu semacam ini tampaknya belum akan benar-benar padam dalam waktu dekat.

Kategori :