BACA JUGA:Prabowo Nilai Polisi di Indonesia Tidak Seburuk di Amerika
4. Meminta data pribadi yang terlalu sensitif
Penipuan beasiswa sering meminta informasi pribadi seperti nomor rekening, PIN ATM, hingga data keuangan yang sangat rahasia.
Padahal, beasiswa resmi hanya meminta dokumen umum seperti identitas diri dan nilai akademik tanpa menyentuh data sensitif tersebut.
Jika ada permintaan data yang tidak relevan dengan proses seleksi, maka hal itu patut dicurigai sebagai upaya pencurian data.
BACA JUGA:Lebaran Beda Hari, SETARA Soroti Larangan Salat Muhammadiyah di Sejumlah Daerah
5. Janji yang terlalu mudah dan terdengar tidak masuk akal
Beasiswa palsu biasanya menawarkan kemudahan tanpa syarat atau langsung menjanjikan kelulusan tanpa proses seleksi yang jelas.
Padahal, program beasiswa resmi selalu memiliki tahapan seleksi yang ketat dan transparan untuk menentukan penerima.
Jika tawaran terdengar terlalu sempurna atau instan, maka kemungkinan besar itu adalah jebakan penipuan.
BACA JUGA:Damkar Selalu Ready, Tapi Kenapa Semua Masalah Warga Dilimpahkan ke Mereka
6. Tidak ada testimoni atau riwayat penerima sebelumnya
Beasiswa yang kredibel biasanya memiliki rekam jejak penerima sebelumnya yang dapat dilihat melalui berbagai sumber terpercaya.
Sebaliknya, beasiswa palsu sering tidak memiliki bukti nyata mengenai siapa saja yang pernah menerima program tersebut.
Ketiadaan testimoni atau cerita alumni menjadi tanda bahwa program tersebut tidak benar-benar ada.
BACA JUGA:Ribuan Dapur MBG Disanksi BGN, Standar Amburadul Insentif Ikut Disetop
7. Memberikan tekanan untuk segera mendaftar
Penipu sering menciptakan rasa panik dengan memberikan batas waktu yang sangat singkat agar korban tidak sempat berpikir panjang.
Biasanya mereka menggunakan kalimat mendesak agar calon peserta segera mengirimkan data atau uang dalam waktu cepat.
Beasiswa resmi tidak pernah memaksa peserta dengan cara seperti ini dan selalu memberikan waktu yang cukup untuk proses pendaftaran.