Luhut juga menyoroti sektor energi sebagai salah satu yang paling rentan terdampak jika konflik terus meningkat. Ia mengingatkan bahwa jalur distribusi minyak dunia dapat terganggu, terutama di wilayah Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi global.
“Satu hal yang saya terus pantau dari eskalasi ketegangan ini adalah adanya potensi gangguan pada jalur distribusi energi seperti di Selat Hormuz. Yang tentu saja dampaknya akan terasa langsung pada pasokan minyak dan stabilitas ekonomi nasional,” kata Luhut.
Menurut dia, setiap eskalasi di kawasan Timur Tengah selalu berpotensi mengguncang pasar energi dunia. Karena itu, pemerintah perlu mencermati perkembangan konflik dengan cermat agar dampaknya terhadap ekonomi Indonesia dapat diantisipasi sejak dini.