JAKARTA, PostingNews.id — Kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran mengguncang berbagai kelompok umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Ahlulbait Indonesia menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kehilangan seorang kepala negara, tetapi juga pukulan terhadap simbol perlawanan terhadap dominasi global.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia Zahir Yahya mengatakan Khamenei selama ini berdiri sebagai figur yang melampaui batas politik praktis. “Beliau merupakan simbol keteguhan prinsip, konsistensi ideologis, dan keberanian dalam menghadapi dominasi kekuatan global, khususnya Amerika Serikat dan Israel,” ujar Zahir melalui keterangan tertulis pada Ahad, 1 Maret 2026.
Menurut ABI, kepemimpinan Khamenei mencerminkan garis politik yang menekankan kemandirian dan martabat Iran sebagai sebuah bangsa. Organisasi tersebut memandang kematian Khamenei sebagai kejahatan politik yang mencederai kedaulatan negara sekaligus melanggar norma kemanusiaan dan agama.
Serangan yang terjadi pada Sabtu dini hari, 28 Februari 2026, menghantam kompleks kediaman pemimpin tertinggi di pusat Teheran. Setidaknya empat bangunan di area tersebut dilaporkan terkena bom. Operasi militer itu disebut sebagai serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Media pemerintah Iran Fars mengonfirmasi Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Sky News melaporkan pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah kematiannya.
Korban tidak hanya berasal dari lingkar inti kepemimpinan. Al Arabiya, mengutip sumber dalam keluarga pemimpin tertinggi, menyebut seorang putri, menantu laki-laki, cucu, dan menantu perempuan Khamenei turut tewas.
Bagi ABI, serangan terhadap seorang pemimpin negara berdaulat yang juga menjadi rujukan keagamaan bagi puluhan juta umat merupakan preseden yang berbahaya. Zahir menilai tindakan tersebut menggerus fondasi hukum internasional dan menunjukkan wajah imperialisme modern dalam bentuk yang nyata.
Empat Pernyataan Sikap ABI
Merespons situasi itu, Ahlulbait Indonesia mengeluarkan empat pernyataan sikap. Organisasi tersebut menyampaikan penghormatan tertinggi kepada Ali Khamenei dan menyebut kematiannya sebagai kesyahidan dalam jalan perjuangan. “Kesyahidan Imam Ali Khamenei merupakan kemuliaan dalam jalan perjuangan. Amanah kepemimpinan telah ditunaikan dengan konsistensi, keberanian, dan keteguhan hingga akhir hayat,” kata Zahir.
ABI juga menegaskan sikap menolak segala bentuk penjajahan, dominasi, dan intervensi asing terhadap bangsa mana pun. Menurut Zahir, perlawanan terhadap kezaliman merupakan mandat moral yang tidak bergantung pada situasi politik.
Pernyataan berikutnya berkaitan dengan konsolidasi solidaritas umat. ABI menyerukan kepada umat Islam, khususnya pengikut Ahlulbait di Indonesia, untuk memperkuat persatuan, meningkatkan literasi politik, dan memperkokoh barisan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Pada sisi spiritual, ABI mengajak penyelenggaraan majelis doa dan tilawah Al-Quran selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan sekaligus penguatan rohani bagi umat.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal dan jihad beliau, menempatkannya bersama para syuhada dan shalihin, serta meneguhkan hati umat dalam melanjutkan perjuangan menegakkan keadilan dan martabat kemanusiaan,” kata Zahir.