Israel Luncurkan Serangan, Pemimpin Tertinggi Iran Dievakuasi ke Lokasi Aman

Sabtu 28-02-2026,18:34 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah dipindahkan dari Teheran ketika serangan militer Israel mengguncang ibu kota Iran pada Sabtu pagi 28 Februari 2026 waktu setempat. Informasi itu dikonfirmasi seorang pejabat Iran kepada Reuters yang menyebut Khamenei tidak berada di Teheran dan telah dibawa ke lokasi yang aman.

Kabar pemindahan tersebut muncul setelah sejumlah ledakan terdengar di pusat kota. Beberapa laporan menyebutkan serangan terjadi di area yang berdekatan dengan kantor pemimpin tertinggi Iran. Situasi keamanan di ibu kota pun langsung meningkat.

Media Iran melaporkan sejumlah titik strategis menjadi sasaran, termasuk Direktorat Intelijen Garda Revolusi Iran atau IRGC serta beberapa lokasi lain di pusat kota. Pemerintah Iran kemudian menutup wilayah udaranya sebagai langkah antisipasi.

Saluran televisi pemerintah Islamic Republic of Iran News Network atau IRINN mengonfirmasi adanya serangan melalui teks berjalan yang ditayangkan pada 28 Februari. Siaran televisi itu sempat mengalami gangguan audio sekitar pukul 06.30 GMT sebelum kembali normal.

Setelah siaran pulih, stasiun televisi tersebut menayangkan rekaman aksi unjuk rasa pro pemerintah yang telah direkam sebelumnya. Tayangan itu disertai musik latar dan cuplikan arsip pidato Ayatollah Ali Khamenei yang menyerukan persatuan nasional menghadapi “musuh”.

BACA JUGA:Di Ambang Perang atau Damai, Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa Jadi Penentu

Program berikutnya menampilkan wawancara dengan sejumlah pendukung pemerintah Iran. Mereka menyampaikan penolakan terhadap intervensi asing dan menegaskan dukungan terhadap kepemimpinan negara di tengah situasi keamanan yang memanas.

Di pihak lain, militer Israel menyatakan operasi militer yang dilakukan merupakan serangan pendahuluan terhadap Iran. Seorang juru bicara militer Israel mengatakan negaranya telah “meluncurkan serangan pendahuluan terhadap Iran untuk menghilangkan ancaman terhadap Negara Israel”.

Pemerintah Israel juga menetapkan status darurat nasional dan menutup wilayah udaranya. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan berupa drone maupun rudal dari Iran.

Bersamaan dengan dimulainya operasi, militer Israel mengirimkan peringatan nasional kepada warga agar tetap berada di dekat ruang perlindungan. Otoritas keamanan menilai risiko serangan balasan berada pada tingkat tinggi.

“Ini adalah peringatan proaktif untuk mempersiapkan publik terhadap kemungkinan rudal yang diluncurkan ke arah Negara Israel,” kata militer Israel.

BACA JUGA:Perjanjian Dagang RI–AS Dikritik, Ekonom Soroti Risiko Kebijakan

Seorang pejabat keamanan Israel mengatakan kepada Reuters bahwa operasi tersebut telah dipersiapkan selama berbulan-bulan. Waktu pelaksanaan disebut telah ditentukan beberapa pekan sebelum serangan dilakukan.

Operasi militer itu diberi nama “Shield of Judah”. Salah satu tujuan utama operasi disebut untuk “menghilangkan ancaman terhadap garis depan domestik Israel, dengan penekanan pada peluncur rudal dan pangkalan kendaraan udara tak berawak.”

Sejumlah laporan media Amerika Serikat dan Israel menyebut operasi tersebut dilakukan dengan koordinasi bersama militer Amerika Serikat. Informasi ini muncul di tengah meningkatnya keterlibatan Washington dalam dinamika keamanan kawasan.

Kategori :