Di Ambang Perang atau Damai, Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa Jadi Penentu

Sabtu 28-02-2026,13:57 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Ketegangan yang belum sepenuhnya reda antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak diplomasi. Kedua negara menjalani perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss, Kamis 26 Februari 2026.

Pertemuan itu berlangsung di tengah situasi geopolitik yang sensitif, ketika kawasan Timur Tengah masih dibayangi risiko eskalasi konflik terbuka.

Negosiasi mengenai isu nuklir Iran tersebut dimediasi pihak ketiga. Perkembangannya menarik perhatian berbagai tokoh dunia, termasuk Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui akun X miliknya, @SBYudhoyono, ia membuka pandangannya dengan pertanyaan reflektif, "Hari-hari yang menentukan sejarah Amerika dan Iran: perang atau damai?"

Jenewa di persimpangan sejarah

Bagi SBY, Jenewa bukan sekadar lokasi diplomasi. Kota itu dinilai berpotensi menjadi panggung perubahan besar yang memengaruhi arah politik global. Ia melihat perundingan antara delegasi Amerika Serikat dan perwakilan Iran dapat menjadi titik balik yang menentukan dinamika internasional.

Pembicaraan tersebut dinanti banyak negara, terutama kawasan Timur Tengah yang selama ini berada di garis depan ketegangan geopolitik. Hasilnya dinilai akan berdampak langsung pada stabilitas regional maupun keamanan global.

BACA JUGA:Gelar Pahlawan Soeharto Digugat ke PTUN, Warga Kedung Ombo Tagih Janji Ganti Rugi 35 Tahun

"Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?," tulis SBY, dikutip Sabtu 28 Februari 2026.

Rumitnya persoalan nuklir

SBY menilai pencarian titik temu dalam negosiasi itu bukan perkara sederhana. Agenda utama menyangkut masa depan program nuklir Iran, isu yang sejak lama menjadi sumber kecurigaan dan tekanan internasional.

Menurutnya, merumuskan opsi yang dapat diterima kedua pihak merupakan pekerjaan diplomatik yang sangat kompleks. Kepentingan strategis Amerika Serikat dan Iran berada pada posisi yang jauh berbeda.

"Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang," ucapnya.

Ia menekankan pentingnya kemampuan para perunding membaca arah kebijakan pemimpin masing-masing, yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sinkronisasi antara diplomat dan pemegang keputusan politik, menurutnya, bukan perkara mudah.

BACA JUGA:Perjanjian Dagang RI–AS Dikritik, Ekonom Soroti Risiko Kebijakan

"Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah," lanjutnya.

Ego pemimpin dan beban negosiasi

Dalam pandangan SBY, proses negosiasi tingkat tinggi selalu menguras energi. Dibutuhkan kesabaran panjang, kecerdasan membaca situasi, serta kesiapan melakukan kompromi melalui prinsip take and give.

Para perunding juga harus memahami secara mendalam target politik yang ditetapkan pemimpin negaranya. Ia menilai karakter kedua pemimpin memiliki ciri khas yang turut memengaruhi jalannya diplomasi.

Kategori :