Ketika Sri Mulyani Merasa Tertinggal, Awal Mula Lahirnya LPDP

Sabtu 21-02-2026,14:32 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Ucapan seorang penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP berinisial DS di Inggris memantik polemik di ruang publik. Dalam sebuah video yang beredar, ia memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya sembari berkata, "Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu... ".

Pernyataan tersebut menuai perdebatan luas, sekaligus kembali mengundang perhatian pada sejarah lahirnya program beasiswa LPDP.

Program ini sejatinya tidak muncul secara tiba-tiba. Gagasan pembentukan LPDP berakar pada upaya pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan tinggi kelas dunia.

Inisiatif itu bermula dari pengalaman Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika menjabat pada periode pertamanya di pemerintahan.

Dalam sebuah diskusi bersama para penerima beasiswa LPDP di gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York pada Selasa, 9 April 2019, Sri Mulyani menceritakan asal mula ide tersebut.

BACA JUGA:Dua Periode Prabowo Mengemuka, Surya Paloh Sebut NasDem Sedang Menimbang

Ia mengaku terinspirasi dari percakapan singkat dengan Menteri Keuangan Malaysia yang menyebut memiliki banyak staf yang tengah menempuh pendidikan di London School of Economics.

"Idenya muncul dari menteri keuangan Malaysia yang mengatakan dia punya puluhan staf (yang sedang belajar) di LSE (London School of Economics)," ujar Sri Mulyani.

Mendengar hal itu, ia mengaku langsung membandingkan kondisi Indonesia saat itu. "Waduh, kalau staf saya tidak ada yang sekolah di tempat yang keren ini, bagaimana kita bisa berhadapan di ASEAN dan internasional?" katanya.

Sri Mulyani diketahui menjabat Menteri Keuangan pada periode 2005 hingga 2010 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lalu kembali memimpin kementerian yang sama pada 2016 hingga 2025 di masa Presiden Joko Widodo.

Pengalaman berinteraksi dengan pejabat keuangan negara lain menjadi refleksi penting mengenai daya saing sumber daya manusia Indonesia.

BACA JUGA:Suami DS yang Bangga Anaknya Jadi WN Asing Diduga Belum Rampungkan Pengabdian, LPDP Bakal Selidiki

Kisah tersebut kembali ia sampaikan saat membuka Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 7 Agustus 2025.

Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani mengungkapkan rasa minder yang ia rasakan ketika banyak negara tetangga telah mengirimkan aparatur terbaiknya ke universitas ternama dunia.

"Waktu saya jadi Menteri Keuangan di 2005, 2006 mulainya, itu saya merasa minder karena banyak orang Indonesia yang tidak mampu sekolah di the best university. Sesama Menkeu even di lingkungan ASEAN, Malaysia, Singapore mereka selalu bilang, 'I have my staf mereka udah belajar di Harvard, Columbia, di Stanford, di London School of Economics'. Saya bilang anak buah saya nggak ada yang lulusan situ. Dan kita merasa, we realized bahwa kita harus catching up," tutur Sri Mulyani.

Kategori :