Ia juga menyebut cukup dirinya yang menjadi warga negara Indonesia, sekaligus menilai paspor asing memberikan keuntungan lebih kuat bagi masa depan anaknya dibandingkan paspor Indonesia.
Pernyataan itu kemudian memicu kritik luas dari warganet. Banyak pihak menilai ucapan tersebut tidak etis, mengingat DS menempuh pendidikan tinggi di luar negeri melalui pendanaan beasiswa dari negara.
Kontroversi tersebut pun mendorong perhatian publik terhadap komitmen kebangsaan para penerima beasiswa pemerintah.