Raghavan menilai penelitian tersebut menjadi langkah penting menuju penerapan ekonomi sirkular. Limbah manusia tidak lagi dipandang sebagai masalah pembuangan semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
“Menggunakan urin sebagai sumber daya mendukung sanitasi berkelanjutan dan pemulihan nutrien, sekaligus mengurangi tekanan pada sistem air tawar,” ucap dia.
Tim peneliti mencatat bahwa sel bahan bakar mikroba menghasilkan sinyal listrik yang berubah sesuai tingkat polusi. Karakteristik ini memungkinkan teknologi tersebut berfungsi sebagai alat pemantau kualitas limbah secara sederhana dan murah.
Pendekatan ini juga dinilai mampu menekan biaya infrastruktur sekaligus membantu pemulihan nutrien dari limbah. Konversi urin menjadi listrik dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap sumber air tawar serta memperkuat konsep pemanfaatan ulang sumber daya.
"Studi ini membuka jalan bagi identifikasi spesies Sediminibacterium dan Comamonas yang belum terklasifikasi, untuk menilai peran mereka dalam produksi bioelektrik, dan untuk menentukan apakah mereka menggunakan rantai transpor elektron berbasis mediator atau transpor elektron langsung," tulis tim peneliti.
Para peneliti menekankan perlunya riset lanjutan untuk memahami lebih jauh peran spesies Sediminibacterium yang belum terklasifikasi, terutama terkait kemampuannya menguraikan senyawa dalam anolit dengan kadar amonium tinggi.