Ilmuwan Kanada Ubah Urin Manusia Jadi Listrik, Energi Baru dari Limbah

Kamis 19-02-2026,10:16 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Tim peneliti dari McGill University di Kanada melaporkan terobosan baru dalam pengembangan energi baru terbarukan. Mereka berhasil menghasilkan listrik dari urin manusia melalui teknologi sel bahan bakar mikroba atau microbial fuel cell (MFC).

Temuan tersebut membuka peluang pemanfaatan limbah manusia sebagai sumber energi alternatif sekaligus solusi pengolahan limbah.

Salah satu peneliti, Vijaya Raghavan, menjelaskan bahwa tingginya konsentrasi urin terbukti meningkatkan kinerja sistem MFC. Teknologi tersebut memanfaatkan aktivitas bakteri alami yang menguraikan limbah organik dan melepaskan elektron, yang kemudian diubah menjadi energi listrik.

“Meski MFC diketahui mampu membersihkan air limbah dan menghasilkan listrik, dampak spesifik dari berbagai konsentrasi urin terhadap fungsi elektrokimia, efisiensi penghilangan polutan, dan perilaku komunitas mikroba masih belum sepenuhnya dipahami,” kata Raghavan, dilansir dari Down to Earth, Rabu 18 Februari 2026.

“Penelitian kami secara sistematis mengkaji bagaimana variasi proporsi urin memengaruhi mikroba dan energi yang mereka hasilkan," imbuh dia.

BACA JUGA:Khamenei Tantang Trump, Iran Tegaskan AS Tak Akan Pernah Bisa Hancurkan Republik Islam

Produksi listrik meningkat pada kadar tertentu

Dalam eksperimen tersebut, tim peneliti mengoperasikan empat sel bahan bakar mikroba dua ruang. Sistem itu diisi campuran air limbah sintetis dan urin manusia dengan konsentrasi berbeda, yakni 20 persen, 50 persen, dan 75 persen.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Results in Chemistry itu memantau produksi listrik, tingkat polutan, serta aktivitas elektrokimia selama dua pekan pengujian.

Hasil pengamatan menunjukkan sel bahan bakar dengan konsentrasi urin antara 50 hingga 75 persen menghasilkan listrik paling tinggi dibandingkan komposisi lainnya.

“Urin mengandung ion esensial dan senyawa organik yang mendukung aktivitas mikroba secara cepat sehingga meningkatkan pembangkitan daya dan penguraian polutan,” papar Raghavan.

Para peneliti juga menemukan perubahan komposisi komunitas mikroba di dalam sel bahan bakar. Pada konsentrasi sedang, bakteri Sediminibacterium menjadi spesies dominan. Sementara pada kadar urin lebih tinggi, bakteri Comamonas mengambil peran utama.

BACA JUGA:Viral Klaim Tabung LPG Disiram Air Panas Bisa Dipakai Lagi, Pertamina Buka Suara

Perubahan dominasi mikroorganisme tersebut diduga memengaruhi perbedaan keluaran listrik. Mikroba menghasilkan elektron saat memetabolisme limbah organik, sehingga komposisi komunitas bakteri berpengaruh langsung terhadap efisiensi produksi energi.

Potensi energi untuk wilayah rentan

Menurut Raghavan, teknologi ini berpotensi diterapkan pada wilayah yang memiliki keterbatasan akses energi. Sistem MFC dapat dimanfaatkan untuk mendukung sanitasi di daerah pedesaan, lokasi bantuan bencana, hingga komunitas yang belum terhubung dengan jaringan listrik.

Selain menghasilkan energi, teknologi ini juga memiliki fungsi tambahan. Sel bahan bakar mikroba dapat digunakan sebagai biosensor berbiaya rendah untuk memantau kualitas air limbah tanpa memerlukan peralatan laboratorium yang kompleks.

Kategori :