JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Berkendara selama bulan puasa menuntut kewaspadaan lebih tinggi dibanding hari biasa. Kondisi fisik yang berubah akibat menahan lapar dan haus membuat kemampuan konsentrasi pengemudi tidak selalu stabil sepanjang hari. Pada jam tertentu, risiko kecelakaan bahkan dinilai meningkat karena tubuh mulai kehilangan energi.
Pengamat keselamatan berkendara menilai ada periode waktu yang paling rentan bagi pengemudi maupun pengendara sepeda motor. Pada fase ini, respons tubuh melambat dan kemampuan membaca situasi lalu lintas tidak seoptimal saat kondisi fisik prima.
Periode siang hingga menjelang berbuka
Head of Safety Riding PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, mengatakan jam rawan mengemudi saat puasa umumnya terjadi pada periode siang menuju sore hingga menjelang waktu berbuka.
“Umumnya terjadi di siang menjelang sore (13.00–16.00) dan menjelang saat berbuka puasa. Nah di jam-jam ini tubuh mulai kehabisan energi, refleks melambat, dan fokus juga mulai menurun serta risiko makin tinggi kalau lalu lintas padat,” ujar Agus, saat dihubungi, Rabu 18 Februari 2026.
Menurut dia, kombinasi rasa lapar, dehidrasi ringan, serta kelelahan membuat kemampuan pengambilan keputusan di jalan menurun. Situasi tersebut dapat memengaruhi kecepatan reaksi pengemudi saat menghadapi kondisi mendadak, seperti kendaraan yang berhenti tiba-tiba atau perubahan arus lalu lintas.
BACA JUGA:Empat Sekolah Garuda Dibidik Beroperasi Juni 2026, Seleksi Siswa dan Guru Dikebut
Ketika energi tubuh berkurang, potensi salah perhitungan jarak maupun keterlambatan respons menjadi lebih besar. Risiko semakin meningkat jika kondisi jalan padat atau pengemudi berada dalam tekanan waktu.
Pengaruh ritme biologis tubuh
Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, menjelaskan bahwa penurunan performa tubuh pada siang hari berkaitan erat dengan siklus biologis manusia.
“Menurut siklus tubuh manusia, badan mulai drop di jam 12 siang sampai jam 15.00 sore. Ketika bisa melewati jam tersebut maka dua jam menuju buka puasa lebih mudah,” kata Sony.
Pada rentang waktu tersebut, tubuh secara alami memasuki fase penurunan kewaspadaan. Dalam kondisi berpuasa, efeknya terasa lebih kuat karena tubuh tidak memperoleh asupan cairan dan energi sejak pagi.
Akibatnya, rasa kantuk lebih mudah muncul dan tingkat konsentrasi berkurang. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan pengemudi dalam memantau lingkungan sekitar secara konsisten.
BACA JUGA:Cek Syaratnya! Ancol Gratiskan Tiket Masuk selama Ramadhan 2026, Berlaku Mulai Sore hingga Malam
Sony menyarankan pengendara mengatur jadwal perjalanan dengan lebih bijak. Jika memungkinkan, perjalanan jarak jauh sebaiknya dihindari pada periode 12.00 hingga 16.00, terutama bila tidak bersifat mendesak.
Mengutamakan prinsip kehati-hatian
Apabila berkendara tidak dapat dihindari, pengemudi dianjurkan menyesuaikan gaya berkendara dengan kondisi tubuh. Kecepatan perlu dikurangi, jarak aman diperpanjang, serta manuver agresif sebaiknya dihindari.
Selain faktor fisik, kondisi lalu lintas menjelang berbuka puasa juga menjadi perhatian. Volume kendaraan biasanya meningkat karena banyak orang bergegas pulang atau mencari makanan untuk berbuka. Situasi ini kerap memicu perilaku berkendara yang tergesa-gesa.