“Saya diberitahu bahwa Norida hidup serba kekurangan, anak-anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah dan telah ditelantarkan,” lanjut Shamsul yang juga anggota parlemen dari Lenggong.
Status Anak yang Berbeda Negara
Persoalan Norida tidak berhenti pada kondisi ekonomi. Status kewarganegaraan kedua anaknya juga berbeda sehingga menimbulkan konsekuensi hukum yang tidak mudah.
BACA JUGA:WOW! Efek Piala Dunia 2026, Sektor Jasa Meksiko City Bersiap Serap hingga 100.000 Pekerja
Anak sulungnya lahir di Malaysia dan berstatus warga negara Malaysia sehingga dapat ikut pulang bersama ibunya. Sementara anak kedua lahir di Indonesia dan berstatus warga negara Indonesia. Anak tersebut tetap tinggal bersama ayahnya di Lombok.
Perpisahan dengan anak keduanya menjadi bagian paling berat dari kepulangan Norida.
Pertemuan Kembali dengan Keluarga
Titik terang muncul secara tak terduga. Seorang tetangga memberi tahu Norida mengenai unggahan sepupunya di media sosial yang sedang mencarinya. Dengan meminjam telepon, ia akhirnya berhasil menghubungi keluarga di Kampung Bukit Sapi, Lenggong.
Keluarga kemudian melaporkan kondisi Norida kepada Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia. Pemerintah Malaysia segera mengoordinasikan proses pemulangan melalui kerja sama berbagai lembaga di dua negara.
Proses tersebut melibatkan Kementerian Luar Negeri Malaysia, Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Departemen Imigrasi Malaysia, serta otoritas imigrasi Indonesia. Tim khusus dikirim langsung ke Lombok untuk menjemput Norida.
BACA JUGA:Wali Kota Surabaya Siapkan Dana Rp 5 Juta per RW untuk Gen Z, Catat Mekanismenya
“Saya telah mengirimkan petugas saya yang dipimpin oleh Dazma Shah Daud ke Lombok, Indonesia, bersama dengan Sekretaris Pribadi saya untuk repatriasi,” jelas Shamsul.
Pulang Setelah Hampir Dua Dekade
Setelah melalui proses administratif dan koordinasi lintas negara, Norida akhirnya tiba kembali di Malaysia dengan selamat. Kepulangan itu membawa kelegaan setelah bertahun-tahun hidup dalam lingkaran kekerasan dan kemiskinan.
Meski harus berpisah dengan salah satu anaknya, ia merasa terbebas dari situasi yang selama ini mengekangnya.
Kisah Norida memperlihatkan kerentanan perempuan migran yang hidup jauh dari keluarga dan sistem perlindungan sosial.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap warga negara asing serta perlindungan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga tanpa memandang status kewarganegaraan.