18 Tahun Terjebak Kekerasan di Lombok, Perempuan Malaysia Akhirnya Pulang ke Tanah Air

Selasa 17-02-2026,12:43 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Hampir dua dekade Norida Akmal Ayob menjalani hidup jauh dari kampung halaman. Perempuan warga negara Malaysia berusia 45 tahun itu datang ke Lombok dengan harapan membangun keluarga baru.

Naasnya, yang ia temui justru kemiskinan, keterasingan, dan kekerasan rumah tangga yang berlangsung bertahun-tahun.

Setelah 18 tahun hidup dalam situasi sulit di Dusun Bajo, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Norida akhirnya kembali ke negaranya pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kepulangan itu menandai akhir dari perjalanan panjang yang ia jalani sejak 2007.

Awal Pernikahan yang Berubah Menjadi Kekerasan

Kisah Norida bermula pada Ramadan 2007 ketika ia memutuskan mengikuti suaminya, seorang warga negara Indonesia, untuk menetap di Lombok. Pasangan tersebut menikah di Thailand pada 2005 dan sempat tinggal di Malaysia hingga kelahiran anak pertama mereka.

Perpindahan ke Indonesia menjadi titik perubahan dalam kehidupan rumah tangganya. Norida mengaku sikap suaminya mulai berubah dan menunjukkan temperamen keras. Kekerasan fisik terjadi berulang kali.

BACA JUGA:Okie Agustina Cerita Kado Ultah Anaknya, Beli Pakaian Dalam Rp1,8 Juta Berujung Menyesal

“Setelah belasan tahun terpaksa menahan rasa sakit akibat didera suami, saya bersyukur bisa kembali ke kampung halaman,” ujar Norida.

Ia mengatakan kekerasan yang dialami berlangsung dalam waktu lama dan meninggalkan luka fisik maupun batin.

“Dia sering memukul dan menendang saya hingga terluka,” tuturnya pedih.

Situasi semakin memburuk ketika suaminya berselingkuh dan kemudian menikah lagi. Rumah tangga mereka akhirnya berakhir dengan perceraian pada tahun lalu.

Bertahan Hidup sebagai Tukang Sapu Jalanan

Perceraian tidak langsung memperbaiki keadaan hidup Norida. Tanpa pekerjaan tetap dan tanpa alat komunikasi untuk menghubungi keluarga di Malaysia, ia harus bertahan hidup sendiri bersama anak-anaknya.

BACA JUGA:MAKI Kritik Sikap Jokowi soal UU KPK, Dinilai Tak Konsisten dengan Kebijakan Lama

Norida bekerja sebagai petugas kebersihan jalanan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan itu dijalani agar anak-anaknya tetap bisa makan, meski pendidikan mereka akhirnya terhenti karena keterbatasan biaya.

“Dia mencari nafkah sebagai petugas kebersihan untuk terus hidup bersama anak-anaknya setelah berpisah dari suaminya yang menikah lagi,” tulis Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah, melalui unggahan di akun Facebook resminya.

Menurut Shamsul, kondisi hidup Norida selama di Lombok sangat memprihatinkan. Ia hidup dalam kekurangan dan minim dukungan sosial.

Kategori :