Riset Terbaru Bongkar Mitos Diet Intermittent Fasting, Peneliti Justru Temukan Hal Berbeda

Selasa 17-02-2026,08:24 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Sejumlah eksperimen pada hewan menunjukkan puasa dapat membantu tubuh memanfaatkan cadangan lemak, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mengurangi peradangan. Puasa juga dikaitkan dengan autophagy, yaitu proses ketika tubuh membersihkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak.

Meski demikian, Semnani-Azad mengingatkan bahwa istilah intermittent fasting digunakan dengan definisi yang beragam di setiap penelitian. Perbedaan pendekatan ini membuat hasil studi sulit dibandingkan secara langsung.

BACA JUGA:Tekanan Sosial hingga Masalah Keluarga, Ini Pemicu Pikiran Bunuh Diri pada Remaja

Perubahan tubuh tidak selalu besar

Profesor Maik Pietzner dari Berlin Institute of Health mengatakan hasil penelitian tersebut cukup mengejutkan karena dampak penurunan berat badan yang muncul hanya sedikit lebih baik dibandingkan kondisi tanpa diet.

Ia menilai sebagian orang cenderung mengurangi aktivitas fisik saat berpuasa, sehingga total energi yang dibakar ikut menurun. Kondisi ini dapat membatasi efek penurunan berat badan.

Penelitian lain yang ia lakukan menunjukkan puasa singkat hingga dua hari hampir tidak memicu perubahan biologis besar. Dalam salah satu eksperimen, peserta hanya mengonsumsi air selama tujuh hari. Perubahan berarti pada protein darah baru terlihat setelah melewati tiga hari pertama.

“Jika seseorang merasa lebih baik dengan pola diet ini, saya tidak akan melarangnya,” kata Pietzner.

Namun, ia menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai manfaat tambahan selain penurunan berat badan yang moderat masih minim.

BACA JUGA:Tidur Mangap Bikin Wajah Jelek? Jangan Sampai Terlambat, Cek Fakta Medis di Balik Pernapasan Mulut Sekarang!

Tidak ada diet instan untuk semua orang

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa tidak ada satu metode diet yang cocok bagi semua individu. Intermittent fasting dapat menjadi alternatif, tetapi tidak menunjukkan hasil yang secara konsisten lebih unggul dibandingkan pola makan sehat yang seimbang.

Para pakar menyarankan masyarakat memilih pola makan yang mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Kebiasaan hidup sehat, pengaturan nutrisi yang seimbang, serta konsistensi menjalani pola makan dinilai tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga berat badan dan kesehatan secara keseluruhan.

Kategori :