BACA JUGA:Tanggapi Koalisi Permanen ala Golkar, PDIP Sebut Koalisi Harusnya dengan Rakyat
Rocky merespons dengan mendorong generasi muda agar tidak kehilangan saluran partisipasi. Ia menilai ketika ruang dialog tertutup, demonstrasi menjadi pilihan yang tak terelakkan.
“Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, lho mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi,” ujarnya.
Diskusi ditutup dengan harapan agar Yogyakarta tetap menjadi pusat perlawanan intelektual terhadap pragmatisme politik. Spirit yang disebut sebagai anti Kandang Gajah itu diharapkan tidak berhenti sebagai metafora, melainkan menjelma menjadi energi kritis yang menyebar ke berbagai daerah.
Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan yang diajukan Rocky menggantung di ruang diskusi. Bukan sekadar tentang banyaknya gelar, tetapi tentang ke mana gagasan para intelektual itu akan berlabuh dan sejauh mana negara memberi tempat bagi pikiran untuk bekerja.