Rocky Gerung Soroti Surplus Gelar dan Sempitnya Ruang Intelektual

Senin 16-02-2026,17:23 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Suasana Embung Giwangan, Yogyakarta, sore itu menjadi ruang bagi kritik yang mengalir tajam namun reflektif. Pengamat politik sekaligus filsuf Rocky Gerung berbicara di hadapan peserta Public Lecture Series 002, mengurai kegelisahan tentang arah pendidikan tinggi dan nasib kaum intelektual di Indonesia.

Rocky memulai dengan menyinggung ironi yang menurutnya kian terasa. Jumlah lulusan bergelar tinggi terus bertambah, tetapi ruang bagi gagasan justru menyempit. Ia melihat ada jarak yang makin lebar antara produksi gelar akademik dan kebutuhan negara terhadap pemikiran kritis.

“Kita hari ini mengalami surplus ijazah, tapi defisit value. Banyak lulusan S3 akhirnya hanya jadi supir ojek karena negara tidak mampu menyediakan ruang bagi pikiran mereka. Kenapa? Karena struktur teknokratis kita lebih banyak dikuasai oleh para dealer pedagang kekuasaan, bukan leader,” kata Rocky dalam acara yang disiarkan daring melalui akun YouTube Pandu Negeri, dikutip Senin 18 Februari 2026.

Rocky menyebut situasi itu sebagai kegagalan negara mengelola komunitas epistemik, yakni kelompok yang seharusnya menjadi sumber gagasan dalam perumusan kebijakan publik. Perguruan tinggi, menurut dia, terlalu terjebak pada formalitas gelar, sementara substansi pemikiran yang bisa memberi arah bagi negara justru kehilangan tempat.

BACA JUGA:UU KPK 2019 Kembali Disoal, DPR Nilai Jokowi Tak Bisa Lepas Tangan

Kritik itu tidak berhenti pada dunia kampus. Ia juga menautkannya dengan struktur kekuasaan yang dinilai lebih memberi ruang pada kepentingan praktis ketimbang kepemimpinan berbasis gagasan.

Di titik ini, Yogyakarta ia tempatkan sebagai simbol. Kota pelajar itu, kata Rocky, memiliki tradisi panjang sebagai ruang perdebatan akademik yang hidup. Tradisi itu ia nilai harus dijaga agar tidak larut dalam arus politik yang pragmatis.

“Jogja ini adalah tempat di mana orang datang untuk bertengkar secara akademis. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi,” ujarnya.

Ia menggunakan metafora Kandang Gajah untuk menggambarkan potensi jinaknya ruang intelektual ketika terlalu dekat dengan kepentingan kekuasaan.

BACA JUGA:Sule Cerita Pahit Awal Karier, Usaha Warnet Bangkrut dan Bisnis Cicilan HP Berkali-kali Ditipu

Menjaga Nalar Publik dan Peran Oposisi

Dalam paparannya, Rocky juga menyinggung bahaya otoritarianisme yang datang perlahan. Ia menilai gejala itu hanya bisa diimbangi dengan menghidupkan kembali nalar publik melalui oposisi dan pemikiran kritis.

“Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town bahasa sehari-hari warga. Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis,” katanya.

Bagi Rocky, oposisi bukan semata posisi politik, melainkan mekanisme untuk menjaga akal sehat publik agar tetap bekerja.

Forum itu juga memberi tempat bagi suara pelajar. Otniel Rahadianta dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS Yogyakarta menyampaikan kegelisahan tentang sistem pendidikan yang dinilai kaku dan kurang memberi ruang bagi ide baru.

Kategori :