Ramadhan dan Lebaran 2026 Akan Disulap Lebih Semarak, Ini Rencana Pramono Anung

Senin 16-02-2026,09:41 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan suasana Ramadhan dan Idulfitri 2026 di Ibu Kota akan dikemas lebih semarak. Pemerintah Provinsi DKI menyiapkan rangkaian perayaan yang disebutnya mampu menghadirkan atmosfer kebersamaan seperti perayaan besar keagamaan lainnya di Jakarta.

Pernyataan itu disampaikan Pramono saat menghadiri Silaturahmi Akbar Kaum Betawi di Museum M.H. Thamrin, Senen, Jakarta Pusat, pada Minggu 15 Februari 2026. Dalam sambutannya, ia menegaskan perubahan suasana kota akan mulai terasa menjelang datangnya bulan puasa.

“Nah nanti begitu tanggal 18 Februari, Jakarta berubah menjadi menyambut Ramadhan dan Idulfitri. Enggak kalah dengan Natalan maupun Imleknya. Pokoknya saya akan membuat Jakarta jauh lebih meriah terhadap itu,” ujarnya.

Pramono menilai perayaan keagamaan di Jakarta perlu menghadirkan nuansa inklusif sekaligus merepresentasikan identitas lokal. Karena itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat Betawi dalam berbagai agenda kebudayaan dan perayaan yang digelar pemerintah daerah.

Ia mencontohkan pelaksanaan perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Saat itu, menurut dia, tidak ada kegiatan Christmas Carol berskala besar di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin. Meski demikian, ia memastikan unsur budaya Betawi tetap dilibatkan dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung.

BACA JUGA:Kebutuhan Tunai Naik Jelang Lebaran 2026, BI Gelontorkan Rp1,1 Triliun Uang Layak Edar di Bangka Belitung

"Ketika Natalan dan Tahun Baru kemarin, enggak ada yang namanya Christmas Carol itu yang begitu meriah diadakan di Jalan Sudirman Thamrin. Tetapi tanpa bapak, ibu, saudara, saudari, tolong dicek, saya meminta ada Betawinya dalam semua kegiatan,” kata dia.

Hal serupa, kata Pramono, juga diterapkan pada perayaan Tahun Baru Imlek. Ia menyebut keterlibatan unsur Betawi menjadi bagian penting dari proses akulturasi budaya di Jakarta yang sejak lama tumbuh dari pertemuan berbagai komunitas.

“Lihat di YouTube ya. Nari dulu Betawinya. Karena apa? Enggak bakal ada akulturasi Betawi dengan Tiongghoa kalau masyarakat Betawi tidak kemudian terlibat di depan,” ujarnya.

Menurut Pramono, pendekatan kebudayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat menjadi cara efektif untuk menjaga toleransi di tengah keberagaman Jakarta. Ia meyakini persoalan sosial tidak selalu harus diselesaikan melalui pendekatan yang kaku, melainkan dapat dibangun lewat suasana yang menggembirakan.

“Jadi dalam banyak hal menyelesaikan persoalan toleransi tanpa kemudian harus marah-marah. Menyelesaikan persoalan-persoalan dasar harus dengan kegembiraan, kenyamanan, keterbukaan,” kata Pramono.

BACA JUGA:BP Taskin Siapkan Sistem Token untuk Tekan Kemiskinan, Uji Coba Dimulai saat Ramadhan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, ingin menjadikan momentum Ramadhan dan Idulfitri bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan ruang perjumpaan budaya yang memperkuat rasa kebersamaan warga kota.

Melalui pelibatan unsur Betawi dalam berbagai kegiatan, pemerintah berharap identitas lokal tetap hadir di tengah dinamika Jakarta sebagai kota multikultural.

Kategori :